Archive for the Karya Arsitektural Category

Struktur Bangunan dengan metoda Kayu Lapis (LVL) dari kayu cepat tumbuh

Posted in Karya Arsitektural on 21 September 2010 by arsb

oleh : ARIEF Sabaruddin

Sulitnya mencari kayu solid saat ini, telah mendorong peneliti untuk dapat memanfaatkan kayu olahan yang dibuat dari jenis kayu yang berasal dari tanaman cepat tumbuh seperti sengon, relatif kita dapat memanen setelah pohon berusia sekitar 10 tahun. tentunya untuk jenis kayu kamper, tidak mungkin dalam 10 tahun sudah dapat dioleh.

Sifat kayu yang rentang dan mutu yang sangat rendah dapat disiasati dengan teknologi laminasi (LVL) sehingga kekuatan kayu sengon atau albasia dapat setara dengan kayu kamper atau kayu borneo, setidaknya naik kelas ke kayu kelas III atau bahkan sampai kelas II.

Teknologi bahan kayu LVL tersebut diujicobakan pada bangunan kantor di Medan, dengan konstruksi jembatan untuk ruang-ruang pertemuan yang bebas kolom. konstruksi jembatan tersebut juga dalam rangka memanfaatkan bangunan lama yang berada di bawahnya, yang secara ekonomis bangunan tersebut masih cukup handal untuk digunakan.

Gambar-gambar ini memperlihatkan konstruksi kayu LVL yang dikombinasikan dengan teknologi knock down RISHA.

ARSITEKTUR KABEL

Posted in Karya Arsitektural on 20 April 2009 by arsb

PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA BARAT

Oleh : ARIEF Sabaruddin

Peneliti dan Arsitek Perumahan dan Permukiman

(Tulisan Telah diterbitkan pada Jurnal Kopertis Wilayah IV)

pancanitri

Abstraksi

Kebutuhan akan wadah yang mampu menampung suatu kegiatan kesenian daerah, memerlukan suatu suasana yang dapat melarutkan penontonnya pada nilai-nilai dari kesenian yang disajikan, yang diutamakan pada kesenian daerah adalah nilai-nilai mistik lebih mendominasi keberadaannya. Pemilihan lokasi yang tepat akan dapat membantu tercapainya suasana tersebut, selain itu disain bangunanpun harus mendukung agar tercipta suasana yang juga dapat mendukung.

Akar budaya kesenian tradisional khusunya di Jawa Barat, berangkat dari kegiatan-kegiatan upacara adat yang berkaitan dengan perayaan-perayaan seperti upacara pada saat mulai menanam padi atau pada saat panen, dimana pada pelaksanaannya dilakukan tarian-tarian dan bunyi-bunyian yang pada akhirnya tergeser kebiasaan itu menjadi suatu kesenian yang disajikan sebgai alat hiburan.

Melihat pada akar tumbuhnya kesenian tradisional, dalam suatu perencanaan bangunan kesenian tradisional harus mampu menciptakan suasana dialam terbuka agar lebih dapat dinikmati. Sehingga penonton dapat menikmati nilai seni secara utuh. Pemilihan struktur kabel dan tenda merupakan salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan nilai-nilai asli dengan tuntutan perkembangan nilai kesenian daerah. Nilai kesenian daerah pada awalnya sebagai alat upacara adat saat ini bergeser menjadi alat pariwisata daerah yang dijual kepada turis asing maupun domestik.

  1. Latar Belakang
    1. Nilai-nilai Budaya Masyarakat Tradisional

      Budaya dalam masyarakat di Indonesia umumnya sedang mengalami perubahan yang sangat pesat, terutama sekali dengan masuknya budaya barat yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi saat ini, dengan hadirnya internet membuat dunia ini menjadi dekat dan tanpa batas. Sisi lain dari dampak perkembagan teknologi ini adalah terkikisnya budaya-budaya yang memiliki nilai luhur bagi bangsa Indonesia yang memberikan ciri dan karakter bangsa. Sangat dikhawatirkan sekali bila nilai-nilai budaya luhur ini harus hilang dari permukaan bumu nusantara.

      Dalam mengantisipasi arus budaya barat yang terus mengkikis kebudayaan kita, maka perlu kiranya kita meningkatkan rasa cinta budaya bangsanya terutama pada generasi muda, penanaman rasa cinta ini adalah dengan memperkenalkan kekayaan budayanya, karena bila tidak pernah mengenal maka tidak akan dapat menyintai.

      Penyediaan sarana dan parasarana informasi kebudayaan perlu ditingkatkan, misalnya dengan membangun bangunan-bangunan kebudayaan, bangunan-bangunan kesenian dan bangunan bangunan lainnya. Untuk menciptakan daya tarik pada generasi muda khusunya maka perlu pendekatan disain bangunan yang mampu menanamkan rasa bangga dan gengsi.

      Perpaduan sistem struktur konvensional dengan sistem struktur tenda merupakan suatu usaha untuk menciptakan daya tarik unik bagi generasi masyarakat terutama generasi muda. Struktur kabel akan memberikan nuansa moder yang seringkali menjadi kebanggaan dan acuan kemodernan seseorang. Sistem struktur konvensional tetap merupakan sistem struktur utama bangunan, karena sistem sturktur ini yang akan mampu menjaga suasana ketradisionalan serta budaya, sehingga akan mampu menjaga nilai-nilai budaya seperti aslinya.

      Sebuah karya arsitektur dengan menerapkan sistem struktur tenda telah diterapkan di salah satu bangunan kesenian, dalam sebuah kompleks Padepokan dengan nama Padepokan Manggala Giri di Lembang Kabupaten Bandung, bangunan ini merupakan milik seorang tokoh masyarakat priangan yang memiliki keinginan kuat untuk mengangkat nilai budaya seni sunda dengan menyediakan fasilitas yang dapat digunakan oleh seniman dan masyarakat yang akan berekreasi. Namun sangat disayangkan bahwa realisasi fisik dari bangunan ini kurang begitu lancar sehingga pelaksanaanya belum dapat diselesaikan, terutama struktur kabelnya yang belum dikerjakan sama sekali.

      Pada uraian selanjutnya akan dikupas mengenai bangunan ini dengan pendekatan dari fungsi bangunan, sebagai wadah yang harus menampung kegiatan berbagai seni tradisional Jawa Barat, dengan target market adalah seluruh lapisan masyarakat baik tua maupun muda. Selain itu juga diharapkan bahwa bangunan ini dapat menampung kegiatan-kegiatan pertemuan yang sifatnya formal. Bahasan prilaku sistem struktur terutama sistem struktur kabel, akan berangkat dari fungsi serta penjelasan prilaku serta konstruksi-konstruksi tertenatu yang cukup berperan dalam struktur.

    2. Jiwa Kesenian Daerah

      Pada awalanya jenis kesenian tradisional muncul dari tata cara atas tradisi dalam upacara adat, seperti pada upacara musim panen atau tanam serta pada upacra-upacara adat lainnya, pada beberapa suku yang ada di Indonesia masih ada yang memegang tadisi ini, bahkan di Jawa Barat sendiri tradisi ini masih sering kali dilakukan.

      Selain itu tidak sedikit pula kesenian tardisional ini yang mengalami kepunahan, kepunahann ini disebabkan oleh :

  • Tidak sesuai dengan zaman, sehingga banyak kesenian tradisional yang yang dahulu digunakan untuk melaksanakan upacara adat saat ini sudah mulai kurang pendukungnya.
  • Belum adnya data tertulis atau dokumentasi dari kesenian tradisional itu sendiri, sehingga banyak karya keseniaan tradsional yang hilang, yang tinggal hanya namanya saja, karena tidak ada dokumen dan catatan tertulis yang bisa dibaca.

Dalam penyelenggaraannya kesenian-kesenian ini, karena sebagai alat dalam melakukan upacara yang berbau religius, dilakukan langsung di ruang terbuka. Pada kegiatan panen atau musim tanam kegiatan upacara dilakukan langsung dilapangan terbuka atau di lahan tempat masyarakt itu mengerjakan pertaniannya.

Pelaksanaan upacara-upacara yang umumnya dilakukan diruang terbuka, juga kegiatan upacara itu dilakukan oleh seluruh masyarakat yang hadir, sehingga antara pembawa acara kesenian dengan pengujung sama-sama melakukan kegiatan, artinya keduanya sama-sama melakukan kegiatan upacara itu, berbeda sekali dengan kesenian-kesenia yang dilakukan oleh kesenian yang berasal dari barat, ada pemisah antara tokoh yang melakukan dan pengunjung, sifatnya lebih satu arah, sedangkan pada kesenian tradisional di Indonesia khusunya di Jawa Barat tidak terjadi satu arah akan tetapi membaur.

Utnuk menampung jiwa kesenian tradisional seperti ini, tentunya pemilihan ruang terbuka sangat tepat, sehingga peran bangunan tidak lagi menjadi faktor utama, bentukan disain seperti ini dapat direncanakan suatu bangunan kesenian terbuka. Tentunya dalam menghadapi cuaca, kondisi ruang terbuka ini sering kali kurang menguntungkan, terutama sekali bila kegiatan kesenian ini akan dikomersialkan, ditambah lagi bila sasaran tareget marketnya adalah golongan masyarakat muda.

Struktur penutup tenda dengan pengkaku kabel merupakan suatu solusi tepat dalam pengadaan Gedung kesenian yang bercitrakan tradisional. Struktur kabel selain dari sisi filosofinya merupakan struktur bangunan yang tergolong primitif, karena masyarakat primitif banyak yang mengandalkan bangunannya dengan menggunakan sistem struktur tenda dengan bahan dari kulit binatang. Bahkan sistem struktur kabel ini merupakan pengembangan dari sistem struktur masyarakat primitif yang telah dikembangkan.

  1. Jenis Kesenian Tradisional

    Kesenian tradisional secara umum terdiri dari seni tari, seni musik, seni bela diri serta seni drama, di Jawa Barat jeis-jenis seni ini dimiliki. Jenis kesenian karawitan, dalam bukunya Atik Supandi membagi karawitan menjadi :

  • Karawitan sekar, yaitu seni suara yang diungkapkan atau dihidangkan dengan suara mulut, baik oleh juru sekar/ sinden atau oleh wirah – suara. Karawitan sekar ini terbagi dalam dua jenis, mamos dan kakawih, mamaos adalah karawitan vokal yang berirama bebas sperti pupuh, papantun dsb. Kawih adalah karawitan sekar yang terikat
  • Karawitan gending, adalah jenis seni suara yang diasjikan dengan menggunkan waditra, karawitan ini dapat digolongkan lagi menjadi ; digesek, dipetik, digoyang, ditiup dan dipukul.
  • Karawitan campuran, yaitu seni suara campuran antara sekar dengan gending, dalam cara hiangknya dapat digolongkan menjdai; sekar dan sekar-gending

Dalam seni pertunjukan atau pagelaran, karawitan selain berfungsi sebagi pengiring tari, daram dan pedalangan, karawitan juga dapat berdiri sendiri. Karawitan itu dapat diperytunjukan secara utuh dan karawitan itu dapat berfungsi sebagi pengisi suasana..

  1. Perancangan Arsitektural
    1. Program Fungsional

      Melihat pada kebutuhan fungsi diatas maka bangunan ini harus mampu mewadahi kegiatan-kegiatan karawitan, baik karawitan sekar, karawitan gending mapun karawitan campuran. Dengan pemakai bangunan adalah seniman serta pengunjung. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa sifat seni karawitan ini adalah dinamis dalam arti terjadinya proses timbal balik antara seniman dengan pengunjung, disini pengunjung juga perperan serta aktif dalam pertunjukan (terlihat pada kesenian jaipong, diman pengunjung dapat ikut berjaipong), maka stage tidak perlu terpusat, dalam disian bangunan ini stage dibuat dua buah yaitu dibelakang serta di pusat, penempatan stage di belakang lebih berfungsi untuk menepatkan pengiring atau pengunjung ikut serta dalam kegiatan seni. Sednag bagian tengah untuk penekanan fungsi pertunjukan, walaupun tidak menutup kemungkinan pengunjung turun ke arena bagian tengah.

      Selain fungsi utama perlu juga disiapkan fungsi penunjang, sperti raung persiapan pria dan wanita, gudang alat serta toilet umum dan ruang penerima/ resepsionis. Seluruh bangunan memberikan kesan terbuka, sesuai dengan fungsinya untuk memberikan kesan bangunan menerima, ekspresi ini terlihat pada sekeliling ruang pertunjukan didingnya dibuat transparan, yaitu dari bahan kaca, untuk menghindari pengunjung masuk langsung, maka disekelilingnya dibatasi dengan air (kolam yang menyambung dengan latar belakang panggung). Begitu juga pada bagian depan lobby berhubungan langsung dengan ruang luar, dan lobby ini dapat juga difungsikan sebagai panggung terbuka yang menghadap kalapangan parkir (alun-alun) yang berada didepanya, hal ini dimungkinkan bila akan diadakan pertunjukan yang perlu dihadiri oleh masa yang cukup banyak. Pertujukan tebuka ini dapat dilihat dari berbagai susdut pada tapak kompleks, seperyi dari lapangan berkuda, dari lapangan tenis, maupun dari kolam renang dan lapangan parkir sendiri.

    2. Masa dan Ruang

      Secara keseluruhan masa bangunan terdiri dari tiga blok masa, yaitu masa ruang pertunjukan, masa ruang penunjang termasuk stage serta masa penerima atau entrance bangunan. Pada masa bangunan penerima serta masa bangunan penunjang jarak ketinggian plafond berkisar 3.20 dengan plafond ekspose, sehingga rangka kuda-kuda terlihat dan sebagai komponen estetika, keadaan ini memberikan susana anggun dan monumental bagi bangunannya.


       Skematik Disain Bangunan Kesenian Karawitan Padepokan Manggala Giri
      Dari segi masa bangunan secara utuh lebih dikuasai oleh bentuk atap yang cukup besar, sehingga bangunan menjadi sangat menonjol sekali, penonjolan bangunan ini diperkuat lagi dengan sudut kemiringan atap yang pada bagian atap puncak diberikan sudut 600 dan bagian bawah dengan susun dua diberi kemiringan atap 300.

      Kemiringan atap ini selain bertujuan untuk memberikan kesan monumental, juga mengacu pada bentuk-bentuk bangunan tradsisional khusunya di Jawa Barat, yang bentuk dasar atapnya memiliki kemiringan ang cukup curam. bahan penutup atap bangunan tradisional umumnya dengan bahan ijuk, yang memiliki tekstru kasar dan berwarna gelap. Sehingga pemilihan bahan genting masih dimungkinkan dan diberi warna gelap.

      Bentuk lahan yang berkontur dengan kemiringan yang rata-rata 300 merupakan potensi dalam penempatan ruang-ruang, kontur digunakan juga untuk penyusunan lantai tribun, ruang penunjang dibuat lantai plit, serta potensi pemandangan kearah bandung dimanfaatkan sebagai latar belakang dari stage.

    3. Typologi Bangunan

      Typologi bangunan mengacu pada bangunan tradisional Jawa Barat dengan penekanan pada bentuk atap, yaitu bentuk atap julang ngapak yang dimodifikasi dengan atap jurai. Hal ini sebagai tuntutan fungsi yang harus memiliki empat muka bangunan, dengan satu orientasi.

  2. Perancangan Struktural

    Sistem struktur utama adalah sistem struktur konvensional dengan menggunakan konstruksi kuda-kuda dari kayu, sedangkan kolom balok menggunkan beton bertulang, podasi sumurang dengan diameter berkisar antara 1m samapi dengan 1,5m . pada masa bangunan pertunjukan untuk melindung penunjung dari cuaca terutama hujan, maka dipilih sistem struktur tenda, yang dapat di buka tutup. Pemilihan bahan tenda diutamakan bahan yang transparant dengan tujuan agar pengunjung tetap dapat merasakan suasana alam terbuka, sesuai dengan tuntutan fungsi.

    Dalam uraian sistem struktur ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah sistem struktur kabel pada bagian ruang pertunjukan, karena memiliki keunikan tersendiri sedangkan sistem struktur konvensional hanya terungkap sedikit sejauh untuk memperjelas sistem struktur secara keseluruhan.

    Terdapat beberapa jenis struktur kabel banyak digunakan diantaranya adalah ;

    1. Jenis struktur kabel delan peletakan kabel vertikal, gaya tarik yang terjadi yang disebabkan gaya luar dan berat sendiri, garis kerja gaya-gaya berhinpit dengan kabelnya.
    2. Jenis struktru kabel dengan peletakan kabelnya horizontal atau miring, diman garis kerja gaya-gayanya tidak berhimpit dengan kabelnya.
  1. Perilaku Sistem Struktur Tenda

    Prilaku dari atap tenda pada prinsipnya tidak dapat berdiri begitu saja, karena tenda

      sifatnya sangat elastis , tenda perlu ditunjang oleh tiang atau jaringan kabel sebagai pengkaku, sehingga tenda menjadi lebih kaku dan memiliki bentuk pada gambar diatas ditujukan berbagai perlakuan terhadap tenda sehingga memberikan berbagai bentuk.

  2. Sistem Konstruksi

  3. Jenis konstruksi dibagi menjadi dua sistem, yaitu ;

    1. sistem single layer

      yaitu sistem struktur kabel yang terdiri dari sati lapis kabel, yang direntangkan pada rangka utama cntih sistem struktur ini seperti pada raket badminton, atau juga sistem struktur satu lapis dengan penunjang yang berupa kolom, dimana kabel digantung pada kolom-kolom penunjangnya, kabel bisa digantung langsung pada kolom dengan memeringkan kolomnya atau diberi angker pada landasan diatas tanah.

      Rancangan bangunan kesenian Padepokan Manggala Giri ini didisain dengan menggunkan sistem struktur kabel satu lapis dengan penunjang kolom pada didnding pemsih ruangan antara ruang luar dengan ruang dalam dan angker diatas permukaan tanah. Pada tumpuan kepala kolom diberikan rol untuk memberi kesempatan pergerakan kabel akibat dari defleksi, kolom disini menerima beban diagonal akibat tekanan dari kabel dengan beban dinamis, karena gaya-gaya yang terjadi berubah-ubah yang disebabkan dari tekanan angin yang tertampung oleh bidang tenda, gaya angin sendiri yang terjadi berubah-ubah, sehingga menimbulkan efek getar pada struktur.

      Antara kebel-kebel utama dipasng kebal anak, yang sifatnya lebih mengkakukan struktur kabelnya. Konstruksi kuda-kuda pada bagian tumpuan dibuat konstruksi khusus, dengan membuat distribusi beban pada tiga arah dua batang tekan, yaitu pada balok kuda-kuda dan satu batang tarik pada ikatan angin.


       Peran ikat angin pada konstruksi kuda-kuda bangunan ini sangat besar karena selain beban-beban horizontal yang biasa dipikulnya akan ditambah dengan beban tetap dan beban dinamis yang ditimbulkan akibat keberadaan atap kabel.

    2. sistem double layer

      sistem struktur kabel dengan double layar yaitu penempatan kabel utama pada dua bidang/ lapis, biasanya lapis atas dan lapis bawah, diantara kedua lapisan tersebut dipasang batang-batang pengkaku, batang-batang tersebut dapat berupa batang tarik maupun batang tekan

       

      Konstruksi

    1. Metode Pelaksanaan

      Tahapan pelaksanaan pembangunan gedung ini dimulai dengan pembangunan fisik struktur utama dengan mempersiapan/ menyediakan asesoris untuk konstruksi kabel, sedangkan konstruksi kabelnya sendiri dilaksanakan setelah struktur utama dengan metode konvensional diselesaikan. Dalam pelaksanaannya sendiri pembangunan dikerjakan oleh dua pelaksana, pelaksanaan konvensional dilakukan oleh pelaksana lokal/ penduduk setempat karena tidak ada yang khusus dengan arahan seorang Site Manager yang cukup profesional. Konstruksi kabel di kerjakan oleh kontraktor yang sudah cukup berpengalaman (belum sempat terealisasikan).

    2. Waktu Pelaksanaan

      Waktu pelaksanaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan gedung kesenian ini adalah 120 hari kalender.

  1. Kesimpulan

Sistem struktur modern seperti kabel dapat dikembangkan dan diterapkan pada bangunan-bangunan yang bernuansakan tradisional dengan pemilihan bahan-bahan membran yang bertektur dan warna kelabu atau transparan. Sistem struktur kabel yang memberikan karakter lentur memiliki potensi dalam penerapannya pada bangunan-bangunan dengan fungsi rekreasi.

Dari segi struktur sistem ini kurang stabil sehingga mudah berubah bentuk bila terkenan beban tambahan, fungsi kabel disini adalah untuk mendapatkan kestabilan pada membrannya. selain itu sistem struktur ini lebih ringan dan tipis. Bahan penutup atap/ membrannya adalah synthetic fibres.

Yang masih menjadi kendala dalam penerapan sisten struktur kabel ini adalah masalah biaya yang masih cukup diangga tinggi serta kemampuan tenaga pelaksana masih sedikit sekali yang mampu menguasai atau berpengalaman dalam menangani konstruksi dengan sistem struktur ini. Hal ini merupakan tantangan baik bagi para arsitek maupun bagi para pelaksana di Indonesia baik dalam meningkatkan kemapuan keprofesiaannya maupun meningkatkan teknologi struktur dan konstruksi.

  1. Daftar Pustaka

    Lin T.Y. and Stotesbury S.D., Structural Concepts and Systems for Architects and Engineers,
    John Wiley and Sons, New York 1981.

    Sabaruddi ARIEF, Kumpulan Disain dan Karya tahun 1994, Bandung 1994

    Sabaruddin ARIEF, Pusat Penelitian dan Pengembangan Karawitan Jawa Barat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung 1989.

    Schueller Wolfgang., Horizontal-Span Building Structures, Jhon Wiley and Sons, New York, 1983.

    Soepandi Atik, Skar., dan Enoch Atmadibrata, Khasanah Kesenian Jawa Barat, Pelita Masa, Bandung 1983.

Disain Rumah Tinggal, di lahan unik

Posted in Karya Arsitektural on 12 Maret 2009 by arsb

oleh : ARIEF Sabaruddin

Gambar-gambar disain ini dapat menjadi inspirasi untuk anda yang akan membangun rumah di atas lahan dengan bentuk rumit, termasuk lahan berkontur, saya memiliki beberapa pengalaman mendisain pada kondisi tersebut dan saya berkeinginan membagi pengalaman tersebut untuk anda yang sedang kesulitan untuk membangun rumah yang sehat, nyaman, dan layak huni pada kondisi tersebut, termasuk tanah dengan lokasi tusuk sate, anda dapat membuka tulisan lengkap mengenai rumah tusuk sate, yang dapat memberikan kebahagiaan bagi penghuninya, walau mitos rumah tusuk sate menyeramkan buat kita, namun dengan pengalaman yang telah dilakukan saya berkat pertolongan Allah SWT, Insya Allah mitos buruk tidak akan terjadi dan justru akan memberikan anda Kebahgiaan tentunya atas Ijin Allah, Amin.

stj-house-05

Rumah tinggal ini dibangun di atas bentuk lahan trapesium, pendekatan disain dengan membuat dua masa yang memiliki orientasi sama, konflif ruang dalam diselesaikan dengan transformasi ruang pada bagian ruang garasi dengan ruang servis dan ruang utama

stj-house-08

Kasus berikut bentuk lahan tidak karuan, pendekatannya dengan orientasi masa yang masing-masing merujuk pada batas jalan, kebetulan lokasinya berada di lahan sudut.

XXX ….. maaf gambar

 satu lagi gambaran rumah tusuk sate

new-picture

membangun rumah di atas lahan sempit, namun berkesan luas, tanpa harus menhabiskan ruang terbuka, ada halaman di belakang dan di depan

ipin-house-26 

 anda memiliki masalah dengan bentuk lahan anda, kami siap membantu ……

 

 

 

Sistem Pracetak untuk Rumah Susun

Posted in Karya Arsitektural on 22 Februari 2009 by arsb

Oleh : Arief Sabaruddin

Sistem BOX (Paten a.n. Arief Sabaruddin)

 nps-box-modul-develop-rusun-twinblok-02 

Ide dasar , model disain laci/ lemari

Tolok ukur , efisiensi untuk mendapatkan disain dengan biaya konstruksi murah

Pendekatan disain,

  1. Pemilihan sistem struktur, kombinasikan dengan rangka pada struktur utama, box sebagai pengisi
  2. Pemilihan bahan bangunan dengan menggunakan bahan bangunan non permanen khusunya pada unit hunian box
  3. Metode pelaksanaan, dilakukan dengan cara ban berjalan untuk jumlah unit hunian masal

Saran

  1. perlu diadakan studi perbandingan bahan konstruksi antara struktur beton bertulang dengan baja, yang menyangkut waktu dan biaya
  2. batasan jumlah unit optimum untuk mendapatkan efisiensi

 SISTEM Open Frame

Sistem Struktur Pracetak T-Cap (Paten an. Arief Sabaruddin)

Sistem struktur pada rumah susun modul dirancang untuk menggunakan sistem struktur pracetak dengan komponen-komponennya yang disiapkan secara fabrikasi. Sistem struktur pada rumah susun modul merupakan modul struktur dengan tiga komponen utama, yaitu komponen kolom T, komponen balok, dan komponen plat ditambah dengan sistem join.

Komponen kolom T memiliki ukuran dengan ketebalan 15 cm, tinggi T 60 cm, flans 30 cm kiri dan kanan, sehingga ukuran total bersih adalah 75 x 75, tinggi kolom T adalah 2.40 m, dengan bahan beton yang direncanakan adalah fc’ 30 MPa. Serta baja tulangan pokok BJTD Æ 13 dan tulangan sengkang BJTP Æ 8, dengan ketentuan jarak sesuai BUKU 4 tentang Spesifikasi Teknis Komponen Sistem Struktur Pracetak T-Cap”.

Pada bagaian atas kolom disiapkan lubang stek dengan kedalaman 60 cm untuk kebutuhan join antara kolom-kolom serta balok, bagian kolom bawah terdapat stek dari BJTD Æ 19 dengan panjang stek 1.00 m, dengan perhitungan 40 cm berada dalam balok dan 60 cm masuk kedalam stek kolom yang berada dibawahnya.

Komponen balok dengan dimensi penampang 15 x 40 terdiri dari dua tipe masing masing tipe memiliki dua buah ukuran panjang. Balok tipe pertama berfungsi untuk memikul beban plat lantai sehingga pada bagian atasnya disiapkan kupingan dengan lebar tumpuannya 5 cm kiri kanan sehingga lebar balok bagian atas menjadi 25 cm dan penampang bagian bawah tetap 15 cm, balok tipe ini memiliki kombinasi panjang 5.00 m, 1.50 m, dan 1.20 m. balok tipe dua dengan ukuran sama tetapi tanpa kupingan, tipe ini memiliki ukuran panjang 2.40 m dan 3.00 m untuk balok tepi yang berfungsi sebagai listplat.

Komponen plat lantai merupakan komponen-komponen yang terdiri dari plat dengan sistem dua tumpuan memiliki bentuk trapesium, ketebalan plat 10 cm dengan ukuran luas plat 0.60m x 3.00 m, modul ukuran ini sangat memungkinkan menggunakan ukuran kobinasi dari kelipatannya. Sistem plat memiliki kemungkinan menggunakan komponen pracetak dari produk yang telah jadi.

Sistem join memiliki bentuk T dengan ketebalan tinggi T 25 cm sehingga membentuk kepala yang membesar pada kolomnya, sistem join dengan sistem stek dan cor setempat dengan menggunakan semen grouting dan injection pada hubungan stek, sehingga terhindar dari proses penyusutan pada sistem joinnya.

 Sistem Struktur Pracetak Cakra (Paten a.n. Arief Sabaruddin)

” Tulisan ini sedang di susun ……. “

Architectural Design By ARIEF Sabaruddin

Posted in Karya Arsitektural on 13 Februari 2009 by arsb

Vila Ciwaruga Keluarga SD Rasyad

ciwaruga-cottage-07

Vila ini terletak di kawasan Bandung bagian Utara, dengan lahan berkontur, pada bagian belakang menghadap kota Bandung, sehingga pada malam hari pemandangan kota dapat dinikmati dari seluruh ruangan pada bangunan ini, menurut pemilik vila ini sangat nyaman untuk tempat berlibur atau bekerja dalam berkonsinyasi, selain pemandangan, bangunan ini memiliki halaman yang luas serta udara yang sejuk, sangat memungkinkan vila ini digunkan oleh umum, yang penting ingat pemiliknya, OK

Gedung Serba Guna Turangga

gsg-puskim-2-03

 

Awalnya akan melakukan revitalisasi kompleks kantor Puslitbang Permukiman di Jalan Turangga, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada sebagai wadah diseminasi, namun pembangunannya masih terganjal oleh proses administrasi, mohon do’a restu untuk kelancaran pembangunannya, amin

Rumah Susun Baling-baling Cimahi,

untuk ekterior lihat tulisan tentang Rumah Susun Untuk Pasangan Muda

rusun-cimahi-2006-02-07

100_1457

rumah susun ini merupakan rumah susun percontohan, dengan memanfaatkan teknologi konstruksi C Plus, konsep dasarnya adalah rumah susun berbasis RENDAH EMISI, rendahnya emisi dicapai melalui disain bangunan serta disain kawasan, dan yang penting dalam program rumah susun ini Kami sudah memiliki konsep pemberdayaan masyarakat, anda dapat bayangkan penduduk lama melalui pembangunan kawasan rusun ini akan memiliki pendapatan tetap dari kawasan, lebih detail kontak kami saja di PUSLITBANG PERMUKIMAN (lembaga litbang yang tangguh, penuh optimisme menyongsong masa depan yang gemilang, yang mampu menerangi masyarakat yang sedang mengalami berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan), silahkan kujungi Kami di :

http://www. puskim.pu.go.id atau di http://www. pu.go.id

Rumah Kantor, Jalan Progo

progo-01

dan banyak lagi KARYA Arsitektural ARIEF Sabaruddin, yang juga sebagai penemu teknologi yang sudah di PATEN kan, diantaranya; T-Cap, teknologi Konstruksi Sistem Pracetak untuk Rumah Susun dan Bangunan Gedung sampai dengan 20 Lantai; RISHA, yaitu Rumah Instan Sederhana Sehat, yaitu teknologi konstruksi rumah sederhana dengan sistem konck down dan cepat bangun, untuk bangunan sederhana sampai dengan dua lantai; CAKRA, yaitu sistem struktur pracetak untuk rumah susun sampai dengan 5 lantai

100_0258

RISHA, rumah instan sederhana sehat, merupakan sistem konstruksi bangunan cepat bangun dan dapat dibongkar pasang, selain harganya yang murah, waktu pelaksanaan yang cepat juga konsumsi bahan bangunannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan konvensional

anda perlu informasi tentang karya dengan lebih detail ? Silahkan kotak Kami di : arief_sabaruddin@yahoo.com

SALAM Arsitektur Perumahan

ARIEF Sabaruddin, peneliti dan arsitek perumahan dan permukiman

Rumah Tusuk Sate

Posted in Karya Arsitektural on 13 Februari 2009 by arsb

Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Kenapa Musti Takut Punya Rumah Tusuk Sate

 

 

oleh : Arief Sabaruddin

 Rumah tusuk sate, rumah yang posisinya menghadap pada jalan yang tegak lurus dengan rumah. Ada kalanya kita memiliki  rumah tusuk sate tanpa bisa dihindari. Bagaimana menyiasati rancangan rumah yang berada pada posisi tusuk sate tersebut, agar rumah tersebut menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi seluruh penghuninya.

Banyak orang memiliki kepercayaan tentang rumah  yang berada pada posisi tusuk sate kurang memberikan keberuntungan bagi penghuninya. Namun ada juga pendapat yang menganggap  bahwa posisi tusuk sate justru memberikan banyak keuntungan bagi pemiliknya. Karena pada posisi tusuk sate tersebut tempat tinggal kita akan mendapat sekuwen pandangan yang lebih lama, tentunya waktu sekuwen tersebut sangat tergantung dari panjang jalan yanbg berada didepan site.

Karena posisinya yang cukup potensial, maka sebagian orang kurang PD (percaya diri)  dengan keberadaan rumah rusuk sate ini. Sementara mereka yang mencoba berpikir positif terhadap kepemilikan rumah tusuk sate,  berpikiran lain.  Yakni dengan memperhatikan pola-pola kerajaan diseluruh manca negara, termasuk di dalam negeri kita sendiri.

Simak saja  letak singgasana raja yang selalu berada pada posisi didepan jalur jalan. Bahkan posisi singgasana tersebut ditinggikan dengan tangga. Kenyataan tersebut menunjukan bahwa Raja tersebut memiliki peran utama.

Demikian juga dengan site posisi tusuk sate. Letak site demikian memiliki peran yang cukup baik dalam lingkungan perumahan. Vocal point (pusat perhatian) dan  titik acuan akan melekat pada bangunan yang berada pada site tersebut. Sehingga menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Sebagai ilustrasi pada seseorang yang akan mencari alamat, atau akan menunjukan alamat posisi rumah  tertentu akan dijadikan acuan menuju tempat yang akan dituju. Vocal point tersebut biasanya selain posisi, fungsi bangunan juga selalu dijadikan acuan, atau skala bangunan, dalam hal ini bangunan yang yang lenih besar didaerah tersebut, lebih tinggi, atau warna-warna bangunan yang menarik perhatian mata.

Buat anda memiliki tanah pada posisi tusuk sate, tidak perlu terlalu kecewa.  Secara alamiah, lahan anda tetap  memiliki potensi baik. Tinggal bagaimana anda menyiasatinya, agar citra yang ditimbulkan oleh bangunan anda menimbulkan penilaian positif dari orang luar terhadap pemiliknya. Berbagai siasat dan trik dapat diterapkan  saat membuat  rancangan rumah tersebut.

Rancangan rumah sangat tergantung dengan kepribadian penghuninya, walaupun penghuninya mungkin lebih dari satu, atau bahkan karakter rumah tersebut juga dapat membentuk kepribadiaan penghuninya, terutama pada anak-anak, seorang anak yang dibesarkan dalam suatu tempat tinggal yang sehat maka akan menjadikan anak tersebut berkembang dan tumbuh menjadi anak yang sehat pula. Pengertian kesehatan tersebut tentunya tidak semata sehat fisik rumah saja akan tetapi sehat rohani penghuninya.

Demi menghindari tekanan dan ketidak nyamanan bagi penghuninya, hal terpenting dalam menyiasati rancangan ruang rumah tinggal tusuk sate adalah hindari penempatan jendela yang menghadap langsung ke poros jalan tusuk sate. Terutama ruang-ruang dalam .dengan intensitas aktifitas keluarga yang tinggi Seperti misalnya  pada ruang tidur, ruang keluarga, termasuk ruang tamu.

 100_2285

Biarkan orang luar hanya dapat mengamati bagian luar bangunan kita saja, demikian juga dengan bagian dalam biarkan seluruh penghuni tidak memperhatikan aktivitas didepannya, karena intensitas aktivitas menghadap poros jalan akan tampak tinggi.

Rumah tusuk sate harus memiliki ruang orientasi ke arah dalam, mutlak dibutuhkan taman-taman bagian dalam baik dibelakang bangunan maupun dibagian tengah bangunan.

Pencahayaan alami siang hari untuk bagian muka yang menghadap poros jalan sebaiknya diletakkan pada posisi menyamping dan buka seluas mungkin pandangan pada bagian dalam. Bila perlu tata sebaik mungkin taman dalam anda.

 

Rumah tusuk sate yang memesona, dapat menjadi sarana beramal .Karena bangunan anda dapat menjadi petunjuk bagi orang lain. Karenanya, jangan sampai   keliru menyiasati rumah tusuk sate tersebut, bila perlu konsultasikan pada ahlinya.

BILA TAK MAU PUSING PAKAI SAJA RISHA

Posted in Karya Arsitektural on 30 Januari 2009 by arsb

Membangun rumah sederhana ternyata tidak sesederhana namanya, bila bangunan yang kita bangun ingin tahan terhadap gempa, ujar Jhonny Rakhman peneliti bidang struktur dan konstruksi di Puslitbangkim, banyak kaidah-kaidah yang harus dipatuhi dalam pembangunan rumah, untuk itu bila tidak mau repot pakai saja teknologi Risha hasil temuan Puslitbangkim, demikian ungkapnya disela-sela kesibukan pengujian struktur di laboratorium. Ya teknologi memang diciptakan untuk memudahkan manusia hidup.

 Risha adalah kepanjangan dari Rumah Instan Sederhana Sehat, yaitu suatu teknologi konstruksi baru yang dipatenkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Departemen Pekerjaan Umum. Risha merupakan teknologi cepat bangun yang bersifat bongkar pasang (knock down), proses pembangunannya sederhana dan sangat cepat, untuk tipe 36 m2 anda hanya perlu 2 hari untuk mendirikannya, dan bila sudah bosan dengan disain bangunannya, kelak dapat diubah tanpa harus menggati komponen-komponenya.

Teknologi ini selain menawarkan kecepatan dalam proses pembangunannya, juga mampu menyerap tenaga kerja dan membuka lapangan pekerjaan disektor industri komponen bahan bangunan, terbukti di Aceh pasca Tsunami, saat ini sudah 16 industri dan menyerap lebih dari 7000 tenaga kerja lokal sudah mengerjakan Risha. Teknologi tepat guna yang digali dari konsep LEGO oleh Arief Sabaruddin, telah diuji terhadap ketahanan gempa di Laboratorium Struktur dan Konstruksi Puslitbangkim. “Waktu gempa di Aceh setahun setelah tsunami rumah tidak rusak. Padahal, skala gempa mendekati enam,” ungkapnya. Seluruh bagian rumah diproduksi secara presisi di work shop sebelum dipasang (prefabrication). Karena itu pemasangan bisa cepat, rapi, dan murah (tanpa pembengkakan biaya dan material sisa).

Pemasangan dengan sistem knock down diikat dengan mur-baut. Pemasangan tidak butuh tenaga ahli. Dengan buku manual tukang biasa pun bisa melakukannya. Rumah memakai tiga komponen panel beton sebagai elemen struktur. Dengan tiga komponen tersebut dapat membetuk struktur mulai dari pondasi, sloof, kolom, balok, dan kuda-kuda, bahkan panel struktur itu dapat berfungsi sebagai tiang pagar, drainase, carport, dan tangga (optional). “Bila ada panel yang rusak bagian yang rusak bisa diganti secara parsial seperti suku cadang mobil,” ujarnya.

Sementara dinding pengisi, penutup lantai dan atap, pintu dan jendela disesuaikan dengan permintaan. Peminat tinggal membawa desain rumah atau bisa juga minta didesainkan. Lahan yang hendak dibangun dalam kondisi matang dengan luas minimal 60 m2. Melalui komponen-komponennya, modul ruang yang dapat dibentuk adalah 1.80 x 180; 1.80 x 3.00; 3.00 x 3.00; untuk bangunan dua lantai dan 3.00 x 4.20 untuk bangunan satu lantai, tidak ada batasan luas bangunan, pengembangan luas bangunan berdasarkan kelipatan 9 m2. Bentuk rumah bisa satu lantai, dua lantai, split level, atau rumah panggung. Meskipun teknologinya sederhana, rumah ini layak untuk kalangan menengah. Tinggal menyesuaikan bahan dan finishing-nya. Gaya arsitekturnya bisa apa saja, termasuk gaya tradisional atau minimalis yang sedang digandrungi. “Risha dicetuskan untuk percepatan penyediaan perumahan berkaitan dengan Gerakan Nasional Pengembangan Satu Juta Rumah,” katanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.