Archive for the Karya Tulis Ilmiah Category

KAIDAH DASAR MEMBANGUN RUMAH TAHAN GEMPA

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 7 Oktober 2009 by arsb

PADA KONSTRUKSI BANGUNAN RUMAH TEMBOK ½ Bata

versi pdf, silahkan kunjungi di : http://www.pu.go.id/satminkal/balitbang/sni/beritapdf/bgn%20tahan%20gempa%20sederhana.pdf
Oleh : Arief Sabaruddin

Peneliti Madya Bidang Perumahan dan Permukiman

Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia setelah sandang dan pangan. Sebagaimana pangan yang memiliki kaidah-kaidah kelayakan pangan yang meliputi empat sehat lima sempurna, begitu juga dengan papan atau rumah memiliki kaidah-kaidah layak huni, agar bangunan memiliki kehandalan, bangunan tersebut harus memenuhi; keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Bangunan Gedung N0. 28/2002.

Keselamatan bangunan meliputi persyaratan kemampuan bangunan gedung untuk mendukung beban muatan, yang meliputi beban sendiri dan beban yang ditimbulkan oleh fenomena alam seperti angin dan gempa, serta kemampuan bangunan gedung dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.

Persyaratan kesehatan meliputi sistem penghawaan, pencahayaan, sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan gedung. Sistem penghawaan meliputi pengaturan ventilasi dan pencahayaan alami atau buatan dimana setiap ruangan harus terjadi pergantian udara dan mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Persyaratan kenyamanan meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang, kondisi udara dalam ruang, pandangan, serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. Kenyamanan ruang gerak ditentukan oleh dimensi dan tata letak ruang. Baca lebih lanjut

Antara Karya Seni dan Arsitektur

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 29 Juli 2009 by arsb

Oleh : Arief Sabaruddin

Peneliti Madya Bidang Perumahan dan Permukiman

Perkembangan ilmu arsitektur dan seni yang dipadukan telah memberikan pengembangan kreatifitas bagi para arsitek maupun para seniman, keduanya seolah menjadi satu produk.

Selama ini antara seni senantiasa memiliki perbedaan yang sangat mendasar, dimana karya seni merupakan sebuah objek yang tidak memiliki fungsi, sedangan arsitektur merupakan disiplin ilmu yang memiliki banyak aturan. Arsitektur selalu memiliki koteks fungsi dan tempat. Uraian ini mengakat isu Architectural Design, yang mengeksplor keterkaitan dan bagaimana perkembangan sejarah pembauran antara karya seni dengan karya arsitektur, serta menguraikan batas-batas perbedaan tersebut.

 Fenomenannya memperlihatkan bahwa pada jenis karya yang saling dipengaruhi dan mempengaruhi pengembangan ilmu keduanya, yaitu disiplin ilmu seni dan arsitektur, sering  menimbulkan ambiguitas, sulit mencari batas, seperti apakah karya arsitek tersebut, yang merupakan objek arsitektural, karena beberapa kaidah disain arsitektur tidak diacu dan mengacu pada karya seni, begitu juga sebaliknya.

Arsitektur dan seni memiliki landasan yang sama, hal ini dapat diperlihatkan pada saat Richard Serra mengembangan sebuah disain dengan dasar bentuk permukaan oktagonal pada sebuah gereja di Burgundy, karyanya tersebut merupakan batas antara objek seni dan arsitektur, dapat dikatakan sebagai pembauran antara pendekatan arsitektur melalui seni. Keterkaitan secara dinamis antara seni dan arsitektur, antara seniman dan arsitek, sebagaimana penggunaan warna dan bentuk scupture, serta bagaimana sikap seni dan arsitektur.

Bagaimana integrasi yang terjadi antara seni menuju art-noevau ke de stijl dan Bauhaus, keseluruhannya memperlihatkan keganjilan dan ketidak seimbangan pada aturan antara seni dan arsitektur. Yang dinyatakan “In architecture there are two essential conditions of truth: the truth with respect to programme, and that with respect to construction methodes. Truth with respect to the programme means fulfilling exactly ang with simplicity the conditons imposed by needs; truth with respect to constructions methods implies usage of materials enhacing original qualities and properties ….. purely artistic questions tied to symmetry and apparent from are only secondary conditions when confronted with our dominant principles.” Eugene Emmanuel Viollet-le-Duc Entretiens sur l’architecture (1863-72) Eugene Emmanuel Viollet-le-Duc, adaah seorang arsitek dan penulis dari Perancis memberikan sebuah petujuk menuju arsitektur masa depan melalui Art Nouveau, bahan bangunan baru sebagai petujuk kehadirannya, bahan bangunan yang telah mempengaruhi struktur bangunan yang lebih ringan, kehampaan, ketransparanan, serta perencanan denah lantai yang berliku-liku.

Simulasi disain yang berkualitas telah dibuat oleh Horta dan Van de Velde, diantaranya adalah Art Nouveau dengan segera menyebar luas, yang telah dimulai dan didahului melalui pewarisan semangat dari perubahan seni dan kerajinan, melalui penghormatan pada keahlian pekerjaan seni dan detail-detail rancangan yang baik. Art Nouveau menyalahi prinsip-prinsip melalui pengurangan isi, yaitu melalui sebuah intepretasi perilaku. Hal ini ditegaskan oleh Bruno Zevi bahwa pekerjaan seni pendirian dari budaya baru disampaikan di atas segalanya yang mempercayai pada perbaikan seni dan budaya, untuk menghancurkan rintangan yang dapat menghalangi proses pertumbuhan, pada kondisi yang serupa sebagai seni hias melalui tekanan bentuk-bentuk alamiah, mereka telah menghilangkan apa yang menghalangi ekspresi artistik.

Bentuk manisfestasi pertama dari De Stijl (1981) de Stijl atau dalam Bahasa Inggris the style adalah gerakan seni di sekitar tahun 1920-an. Konsep ini berkembang seiring terjadinya perang dunia pertama yang berlarut-larut. Komunitas seni de Stijl kemudian berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru di dalam seni. Konsep ini diwujudkan dalam pemikiran utopia. Mereka mewujudkan abstraksi dan ke-universal-an dengan mengurangi campur tangan bentuk dan kekayaan warna semaksimal mungkin.

Komposisi visual disederhanakan menjadi hanya bidang dan garis dalam arah horisontal dan vertikal, dengan menggunakan warna-warna primer seperti merah, biru, dan kuning di samping bantuan warna hitam dan putih. Dalam kebanyakan karya seni, garis vertikal dan horisontal tidak secara langsung bersilangan, tetapi saling melewati satu sama lain. Hal ini bisa dilihat dari lukisan Mondrian, Rietveld Schröder House, dan Red and blue chair.

Konsep de Stijl banyak dipengaruhi filosofi matematikawan M. H. J. Schoenmaekers. Piet Mondrian, kemudian mempublikasikan manifes seni mereka Neo-Plasticism pada tahun 1920, meskipun istilah ini sebenarnya sudah digunakan olehnya pada 1917 di Belanda dengan frase Nieuwe Beelding. Pelukis Theo van Doesburg kemudian mempublikasikan artikel De Stijl dari 1917 hingga 1928, menyebarkan teori-teori kelompok ini. Perupa de Stijl antara lain pematung George Vantongerloo, dan arsitek J.J.P. Oud dan Gerrit Rietveld.

Pada dasarnya aliran de Stijl hanya bergerak dalam dunia lukis. Sebab bagaimanapun konsep de Stijl adalah abstraksi secara ideal komposisi warna dalam bentuk dua dimensi, walaupun kemudian juga menghasilkan kesan ruang. Pemanfaatannya sangat banyak di dalam interior dan arsitekrur. namun seperti yang ditulis oleh Piet Mondrian bahwa de Stijl tetaplah sebuah konsep ideal dalam dua dimensi. Meskipun Theo van Doesburg berusaha keras memperjuangkan pengaplikasiannya dalam dunia arsitektur, de Stijl tetaplah hanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengolahan bidang-bidang warna, bukan arsitekturnya sendiri. de Stijl meredup seiring perpecahan di antara Theo van Doesburg yang aplikatif dan Piet Mondrian yang teoritis. Hingga akhirnya majalah de Stijl terakhir kali terbit untuk mengenang kematian Theo van Doesburg.

Bauhaus dari Program Weimar (1919) Prinsip-prinsip dari program Bauhaus pada tahun 1919 dilandasi untuk mengantisipasi program Taut oleh Bruno pada arsitektur “Arbeitstats fur Kunst”, yang dipublikasi pada akhir 1918 , yang meyakini bahwa sebuah penyatuan budaya baru dapat dicapai hanya melalui sebuah seni bangunan, yang mana setiap disiplin dapat memberikan kontribusi positif pada pengertian bentuk akhir, yaitu tidak ada lagi batasan antara keterampilan pada scupture dan lukisan, semua aspek hanya akan disatukan oleh arsitektur.

Pada saat ini telah memperlihatkan sebuah gejala dimana sifat seni bergerak mendekati ilmu arsitektur dan sebaliknya ilmu arsitektur bergerak menuju ilmu seni, hal ini menunjukkan sebuah pemikiran adanya hubungan antara kedua disiplin ilmu tersebut. Bahwa bentuk seni yang mendekatai bentuk arsitektur adalah seni seni pahat buka seni lukis di atas kanvas, karena seni lukis merupakan sebuah pengembangan dari persepsi visual dari seniman dan pengamat. Seni patung atau scupture saat ini berkembang mendekati ilmu arsitektur , dia mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam ilmu arsitektur dengan mengurangi sedikit proporsi dan sedikit pertanggung-jawaban, dan scupture selalu dibuat menurut intuitif.

Para arsitek berfikir deduktif, melalui visi menyeluruh dari kehidupan yang tampak pada permukaan untuk ditarik pada suatu yang unik/spesifik, memiliki sebuah identitas mutlak, pengalaman ruang secara multi dimensi, di sini dan sekarang.

Karena arsitektur juga bicara fungsi dan juga memiliki pendekatan sains dalam disain. Pada saat ini memperlihatkan bahwa seni bergerak mendekati arsitektur dan arsitektur bergerak pada seni. sehingga apa yang menjadi batasan diantara keduannya, apakah keduannya masih memiliki batasan-batasan yang jelas, dugaan yang muncul yang telah dipahami melalui sistem pendidikan sejak lama, dimana terdapat pemisahan antara arsitek dan seniman, dan saat ini pemisahan antara arsitek dan seniman tetap ada, akan tetapi lebih memiliki alasan yang elastis.

Seorang enginer secara umum tertarik pada aspek teknik, normativ dan memperhatikan aspk-aspek struktur dari konstruksi, sedangkan arsitek lebih memperhatikan pada estetikan dan fungsi serta struktur. Ada perbedaan yang cukup esensial antara produk seni dan produk arsitektur, namun fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini adalah adanya pergeseran dimana produk arsitektur banyak dipengaruhi oleh karya seni, dan sebaliknya karya seni banyak juga dipengaruhi arsitektur, sehingga antara kedua produk tersebut perbedaannya semakin tipis.

Penerapan ilmu arsitektur pada saat ini telah membuka prospek baru dan memberikan gambaran awal yang datang dari arsitektur bukan dari seni, peran arsitektur saat ini semakin meningkat, bahkan telah mempengaruhi kehidupan seni, khususnya seni patung atau scupture.

Arsitektur dikelompokan sebagai aspek seni pada tingkat makrokosmos sedangkan seni scupture dimasukkan dalam tingkat mikrokosmos. Fenomenanya bahwa kekuatan pengaruh maro dalam hal ini disiplin ilmu arsitektur semakin hari semakin kuat, dan masuk pada dunia seni scupture, dan hal ini telah mengahiri dekade dimana arsitektur banyak dipengaruhi oleh seni supture, dan disain arsitektur yang utopia merupakan sabuah pandangan jauh ke depan.

Namun demikian bahwa antara para seniman dan pada arsitek diperlukan sistem kerja dan bekerja pada cara, sebagai berikut: 1. Mengambil pertimbangan dari scupture, lukisan, multimedia, dan sebangainya 2. Jalan tengah diantara ilmu disain arsitektur dan seni scupture kita harus selalu membuka diaolog dan debat diantara keduannya 3. Membawa kembali keindahan narasi, perbedaan kata-kata, lingkaran komunikasi antara yang dapat didefinisikan namun tidak terdefinisikan 4. Adalah sebuah objek hidup, oleh karena itu dapat di habitatkan dan dapat dijalankan. 5. Menuju nilai minimalis geometri, dan instalasi yang terpenting 6. Diberikan karakter melalui struktur, visual dan konseprtual kecukupannya.

Objek arsitektur diserap melalui simbolik dan nilai-nilai permisalan pada penunjukkan pada abstrak, jarak, Karya arsitektur yang banyak dipengaruhi oleh seni dan saat ini semangkin besar pengaruh seni scupture-nya adalah Frank O Gehry, beberapa karyanya secara arsitektural dapat diterima dikarena didukung oleh lokasi dan fungsi, lokasinya yang memungkinkan bahwa bangunan tersebut berfungsi sebagai scupture kota dan fungsinya sebagai fungsi publik seperti museum. Lain halnya bila karyanya diterapkan pada lokasi dan fungsi yang tidak mendukung, kita ambil contoh untuk karyanya Gehry pada Day Building, yang mengambil bentuk sebuah teropong. Ketika bangunannnya diletakkan pada satu kawasan dengan kelompok bangunan berderet, maka bangunan tersebut akan menampakkan ke egoan, kita dapat membayangkan bila bangunan seperti itu dilakukan pada seluruh deret pada jalan tersebut, yang akan terjadi adalah facade kawasan yang sangat dinamis terlalu bebas, dan hal ini akan mengakibatkan pada efek psikologi pada pengguna, mengakibatkan kawasan tersebut memberikan kelelahan bagi masyarakat pengguna.

Sama halnya dengan fenomena yang terjadi pada kawasan Jalan Cihampelas, kawasan rekreasi perbelanjaan yang sangat dinamis dan merupakan bangunan-bangunan yang banyak dipengaruhi oleh karya seni, khususnya scupture.

Pada hal sebuah produk arsitektur harus dapat dikumunikasikan sebagai produk dari ekpresi manusiannya, seperti dinyatakan oleh Trasi “Architecture must communicate in order to survive as a product of human expression”. Fenomena hubungan antara art dan arsitektur telah berlangsung lama , hal ini dapat kita lihat pada riwayat The Tower of Babel, yang dinyatakan dalam riwayat-riwayat dalam Injil, seperti dinyatakan “selain itu, menara agar masyarakat bersama-sama, meskipun fakta bahwa Tuhan telah diperintahkan Nuh dan …. “(Kejadian 9 : 1). Keberadaan menara babel sampai sat ini telah menjadi inspirasi bagi para seniman maupun para arsitek, untuk menterjemahkan dan mendeskripsikan, diantaranya beberapa seniman mengakui keberadaan menara babel tersebut dikaitkan dengan beberapa peninggalan yang terdapat pada relief lansekap sedangkan arsitektur dikaitkan dengan beberapa penemuan arkeolog.

Beberapa bangunan yang terinspirasi oleh menara babel diantaranya adalah bangunan EU Paliement, Empire State Building dan lain sebagainya. Kesimpulan Bahwa telah terjadi interaksi antara disiplin ilmu seni dan disain arsitektur sejak lama, fenomenannya menunjukkan bahwa proses interaksi tersebut semakin hari semakin kuat, sehingga batasan antara objek karya arsitektural dan objek seni, semakin menipis.

Bahwa pada awalnya perjalanan antara ilmu disain arstektur dipengaruhi oleh karya seni, sudah dimulai sejak kelahiran Art Nouveau, De Stijl, Bauhus, dan sampai saat ini, namun apa yang terjadi semakin hari keberpengaruhan tersebut semakin kuat.

Pemaknaan Ruang Hunian pada Rusuna

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 20 Mei 2009 by arsb

Arief Sabaruddin

Abstrak

Telaah ini menggali proses pemaknaan ruang hunian oleh penghuni pada rumah susun sederhana, yang dilandasi teori proses perubahan perilaku penghuni terhadap lingkungan hunian, sebagai upaya manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Proses tersebut merupakan bentuk adaptasi penghuni rumah susun terhadap keterbatasan ruang yang dikuasainya. Proses pembentukan persepsi ruang dari masyarakat dalam suatu komunitas di rumah susun, telah mengakibatkan pergeseran makna ruang, hal ini disebabkan oleh kontak visual dan brain system yang terjadi pada penghuni. Kondisi sosial ekonomi yang membatasi segala lini kehidupan masyarakat membuat keterbatasan ruang makin hari makin diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu yang wajar. Masyarakat kehilangan makna ruang hakiki terhadap ruang private, terutama pada generasi yang tumbuh dan terlahir dari suatu komunitas yang tidak pernah mendapatkan hak ruang-nya. Sehingga masyarakat pada level ekonomi terendah dapat tinggal dalam sebuah gerobak kios dengan ukuran kurang dari dua meter persegi. Telaah ini dilatar-belakangi oleh menguatnya persepsi penerimaan masyarakat akan ruang terbatas sebagai bagian yang standardized (kondisi normal), dengan kata lain terdapat penurunan tingkat kebutuhan ruang pada masyarakat akibat proses kebiasaan yang sangat panjang. Apakah dengan keadaan seperti ini, masyarakat mampu menjalani kehidupan secara wajar atau justru mengakibatkan penurunan kualitas kehidupan yang terus belanjut, hingga akhirnya menciptakan persoalan multi dimensi dari kehidupan masyarakat perkotaan. Telaah ini ditujukan untuk mengenali dinamika pemaknaan ruang serta konsekuensi dari persepsi penghuni tersebut terhadap pola kehidupan dan penghidupan masyarakat di perkotaan, khususnya yang tinggal dalam rumah susun sederhana milik. Akhir telaah ini menunjukkan adanya penurunan kualitas ruang yang diterima masyarakat sebagai sebuah kewajaran dalam kehidupannya, namun akibat langsung dari keadaan tersebut, telah menyebabkan kehidupan masyarakat jauh lebih berat dan penurunan kualitas kehidupan dan penghidupan.

Konsep Desian Rumah Susun Cimahi

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 6 April 2009 by arsb

oleh : ARIEF Sabaruddin

arsitek dan peneliti perumahan dan permukiman

Kata kunci: Pola pengembangan ruang-ruang mikro sebagai upaya mempertahankan budaya kekeluarga dari  masyarakat Indonesia, dalam bentuk ruang luar dengan skala yang manusiawi 

Pola mesin telah merubah prilaku masyarakat perkotaan di Indonesia umumnya, kecenderungan individualis serta tidak saling mengenal sesama warga sudah menjadi suatu fenomena biasa dilingkungan perkotaan saat ini, padahal keadaan ini bukan lah cerminan dari masyarakat Indoensia seutuhnya, akan tetapi hal ini lebih disebabkan oleh dampak pola penanganan lignkunagn perumahan baik yang direncanakan maupun yang tidak terencana, dalam beberapa hal pendekatan perencanaan kita lebih berkiblat pada konsep-konsep barat/kapitalis, yang tentunga sangat berbeda sekali dengan tututan sebagian besar masyarakat Indonesia yang hampir mencapai 90% penduduknya beragama Islam, belum lagi kota Cimahi atau bahkan lebih spesifik kawasan RW 05 dan RW 15 mendekati 99% beraga Islam, yang memiliki aturan serta pola hidup berbeda dengan negara barat tadi.

Ketidak hati-hatian dalam penyediaan perumahan rupanya penyediaan rumah susun sangat tidak diminati oleh masyarakat selama ini. Dan bila kita meninjau kembali kebelangan, harus disadari bangunan rumah susun selam ini berdiri kokoh tanpa menghiraukan skala manusia, sehingga kejenuhan serta rutinitas dan pola mesin lebih membentuk kejiwaab dari penghuninya.

Sebagi pembanding karya seorang Arsitek besar seperti Le Corbusier pada akhirnya harus melihat kegagalan terhadap perumahan skala besar yang pernah dilakukannya di Perancis dengan konsep Grande Ensemble, yaitu rumah susun dengan skala besar dan sangat tidak menghiraukan skala manusia, yang pada akhirnya pada dekade tahun 1980 mulai menampakkan permasalahan sosial, sehingga pada akhirnya Pemerintah disana harus memenggal sebagian bangunan agar lebih mempertimbangkan skala manusia tadi. Melihat pada pengelaman Perancis diatas maka konsep modul dengan membuat ruang-ruang pada skala mikro serta membentuk komunitas yang lebih kecil dalam satu modul adalah elemen rumah susun yang justru sesuai dengan prilaku masyarakat Indonesia. Konsep ini digali dari pola-pola perdesaan di Indonesia pada umumnya.

Pola-pola perdesaan atau perkotaan justru terbentuk dari pandangan hidup masyarakatnya. Pandangan hidup hidup itu dapat saja berasal dari agama yang dianut, atau agama lain, falsafah, budaya, atau tradisi yang diterima sebelumnya. Dan harus diterima bahwa pandangan hidup masayarakat kita lebih banyak dipengerushi oleh ajaran agama-nya khusunya Islam yang mayoritas, serta beberapa tradisi hindu yang telah mempengaruhi sebelumnya.

Rumusan dari hasil analisis diatas pada akhirnya dapat digambarkan tiplogi perdesaan atau perkampungan kumuh adalah tetap terbentuk ruang-ruang mikro yang menghubungkan beberapa komunitas yang jumlahnya sangat terbatas dan disatukan dalam skala ruang yang lebih besar sebagi pengikat ruang-ruang mikro diatas, hal ini dapat dilihat pada gambaran studi perbandingan antara dari salah satu perdesaan yang cukup padat. Dalam ilustrasi tersebut dapat dilihat ruang-ruang mikro yang bermuara pada ruang yang lebih besar. Serta bandingkan dengan gambar berikutnya yang memperlihat ruang mikro yang bentuk, sususnan, serta penempatanya lebih teratur.

 kampung-01

gambar 01. Pola perkampungan di perdesaan maupun perkampungan kota

kampung-02

gambar 02. Transformasi kampung dalam desian rumah susun sederhana di Cimahi, pembentukan ruang-ruang mikro serta gang-gang yang mengalir menjadikan masyarakat merasa nyaman tinggal di kawasan kampung susun, desian ini disusun pada tahun 2002 dan disertakan dalam lomba desain rumah susun serta masuk nominasi sehingga akhirnya pemerintah mendanai untuk direalisasikan.

Nilai Simbol dalam Arsitektur

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 1 April 2009 by arsb

Oleh : ARIEF Sabaruddin

Simbol berasal dari kata Yunani, yaitu “symbollein” yang berarti mencocokkan. Kata-kata simbol dalam media kita akhir-akhir ini sering diaungkapkan, seperti “penyerahan hadiah secara simbolis kepada para pemenang dalam suatu kompetisi…..”. Atau dalam kata lain kita juga sering mendengar ungkapan “Amin Rais merupakan simbol dari reformasi“, atau “uban yang tumbuh di kepala kita dianggap sebagai simbol kedewasaan atau bahkan kemapanan“. Lantas apakah simbol yang akan kita bahas dalam konteks arsitektural sama dengan simbol-simbol yang disampaikan tadi?, menjadi sebuah pertanyaan besar untuk mampu menjawab simbol dalam arsitektur. Sampai saat ini simbol masih memiliki arti sangat penting bagi kehidupan manusia, simbol marupakan salah satu alat dalam komunikasi, dan komunikasi merupakan salah satu syarat dalam interaksi, interaksi adalah bagian utama dari proses sosial dalam masyarakat.

Untuk mulai memahami pengertian dari simbol, kita perlu mengupas beberapa pendapat ahli dalam mendefinisikan simbol. Salah satu definisi symbolism disampaikan oleh A.N. Whitehead dalam bukunya “Symbolism”, sebagai berikut “pikiran manusia berfungis secara simbolis manakala beberapa komponen pengalamannya menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen komponen lain dari pengalamannya. Perangkat komponen yang awal adalah simbol dan perangkat komponen yang selanjutnya membentuk/memberikan makna dari simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna itu dinyatakan sebagai referensi”. Makna merupakan pesan yang akan disampaikan dalam setiap simbol, dengan demikian terdapat unsur persepsi manusia terhadap sesuatu yang bersifat benda maupun bukan kebendaan.

Deskripsi Simbol sementara dapat disimpulkan sebagai sebuah kata atau benda yang mewakili atau mengingatkan pada suatu entitas yang lebih besar. Kata yang terdiri dari beberapa untaian hurup akan memberikan makna, seperti kata “MAKAN” dan “MAKNA“, kedua kata tersebut merupakan komposisi dari lima buah hurup yang sama, namun dikarenakan susunan hurup-hurup tersebut berbeda, maka kedua susunan tersebut memberikan makna yang berbeda, meskipun perbedaan susunannya hanya pada hurup terakhir antara hurup A dan N. Demikian juga makna dapat dihadirkan oleh tanda, dalam tata bahasa kita kenal adanya tanda dalam sebuah kalimat, seperti tanda tanya dan tanda seru, kedua tanda tersebut dapat memberikan makna yang berbeda apabila ditempatkan pada kata atau kalimat yang sama, sebagai contoh : “Makan ?” dan “Makan !” pada kata makan dengan tanda tanya mengandung makna apakah anda sedang makan, sedangkan pada makan dengan kata seru, lebih menunjukan kalimat perintah untuk melakukan pekerjaan makan. Selanjutnya bila kata MAKAN tadi kita kaitkan dengan benda, maka akan memberikan makna yang berbeda, seperti suatu benda akan dimaknai MAKAN oleh orang Jawa Barat manaka kala dalam sebuah piring terdapat nasi dengan lauk pauknya yang didominasi dengan daun-daun segar, namun makna makan oleh suku yang tinggal di Wamena akan diwujudkan dalam bentuk Ubi Bakar pada genggaman tangannya.

Dengan demikian setiap benda atau susunan benda, setiap kata dan kalimat dapat memberikan makna kapada setiap manusia, namun apakah setiap manusia dapat menangkap setiap makna dari sebuah atau susunan kata atau benda dengan makna yang sama ?. seperti pendapat Whitehead, bahwa dalam pemaknaan tersebut ada unsur experience component, dan setiap suku bangsa, setiap masyarakat akan memilki pengalaman yang berbeda-beda. Pada uraian selanjutnya unsur-unsur simbol akan dibahas pada konteks tradisional, arinya simbol dilihat dari pemahaman universal, belum mengarah pada arsitektural, melalui nilai-nilai universal dari simbol diharapkan dapat ditarik benang merahnya untuk mendapatkan nilai-nilai simbol yang menjadi landasan dalam dunia arsitektur. Bagaimana simbol tersebut dapat digunakan dan terjadi pada konteks keilmuan arsitektural. Secara universal unsur simbol terdiri dari lima unsur utama, yaitu: Tanah, Air, Api, Udara, dan Tubuh. Empat unsur tersebut dikelompok menjadi dua, yaitu unsur dinamis dan unsur statis. Tanah, air, udara, dan api masuk kedalam kelompok statis, karena ketiga unsur tersebut sifatnya tidak bertambah ataupun berkurang, akan tetapi tersimpan dalam wujud yang berubah-ubah. Sebagai contoh unsur air dapat berwujud cair, berwujud uap, atau berwujud padat (es), dan mekanisme siklus hidrologi merupakan alat dalam perubahan wujud dari air tersebut, demikian juga unsur api tersimpan dalam energi, sebagai wujud dari hukum kekekalan energi, yang sewaktu-waktu dia dapat membesar ataupun mengecil, bahkan tidak nampak. Tubuh dikelompokkan sebagai unsur yang dinamis, karena sifatnya yang selalu diperbaharui, sebagai contoh tanaman, manusia, hewan, dan mahluk hidup lainnya senantiasa selalu berganti, berbeda sekali dengan tiga unsur yang tadi. 

Melihat pada posisinya maka unsur tubuh dapat dipengaruhi atau mempengaruhi ketiga unsur lainnya, manakala kita membuka kembali lembar Theologi dalam Arsitektur di atas, maka ada perbedaan yang mencolok antara tiga unsur api, air, udara dan tanah, tiga unsur tersebut tidak memiliki insting maupun akal, sedangkan pada unsur tubuh memiliki insting dan akal, namun setiap mahluk berbeda tingkat kemampuan insting dan akalnya. Akal sempurna diberikan kepada manusia sedangkan mahluk lainnya umumnya hanya memiliki insting, walaupun beberapa penelitian tentang Simpanse yang masih memiliki tingkat akal yang paling tinggi dari seluruh hewan, manunjukkan bahwa hewan ini dapat mengembangkan peralatan sederhana untuk kehidupannya, simpanse, sebagai contoh mampu menggunakan batu untuk memecahkan makanan. Sedangkan yang lainnya lebih banyak menggunakan insting, seperti kita lihat bagaimana tanaman pemakan serangga menangkap serangga, menggunakan insting yang ditanamkan dalam mekanisme tubuh, dimana terdapat serabut-serabut halus dengan menebar bau tertentu untuk memancing serangga mendekati, manakala serabut halus tersebut tersentuh oleh tubuh serangga, maka serabut tersebut memberikan sinyal dan menggerakkan kelopak daunnya untuk menjepit serangga dan menyerap sari tubuh serangga sebagai bahan makanan dari tanaman tersebut. Jadi dalam proses kejadian dalam contoh tersebut merupakan tanda-tanda dari adanya interaksi dalam sistem kehidupan ini. Unsur interaksi demikian sebagai suatu proses pengiriman makna dan merupakan dari simbol-simbol yang harus direspon oleh elemen lain. Sebagai gambaran pada tanaman pemakan serangga tadi, kita melihat bahwa pergerakan serabut-serabut halus dari tanaman saat digerakkan dan gerakan tersebut merupakan simbol. Simbol dalam gerakan serabut tersebut memberikan makna, dan makna tersebut dikirimkan kepada kelopak bunga untuk mengerakkan tubuhnya dan menutup, setelah tertutup makna selanjutnya dikirimkan untuk segera menghisap sari pati dari serangga tadi.

Simbolisasi merupakan sebuah proses dari interaksi antara dua atau lebih unsur atau sub unsur dalam sistem kehidupan, dan interaksi merupakan bagian dari proses komunikasi, komunikasi tidak mungkin terjadi manakala tidak terjadi interaksi, namun dari sebuah sebuah interaksi belum dapat dipastikan terjadi komunikasi. Komunikasi merupakan unsur utama dalam sistem sosial, manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri, manusia memerlukan mahluk hidup lainnya termasuk dengan manusia sendiri. Jadi proses simbolisasi merupakan suatu hasil dari konsekwensi sosial mansyarakat.

Proses simbolisasi terjadi manakala makna yang terkandung dalam simbol tersebut diterima oleh tubuh dengan nilai makna yang sama, dan setiap tubuh dapat melakukan pengembangan dari simbol tadi, yang mengakibatkan simbol-simbol semakin hari semakin berkembang.

Tanah sebagai simbol, Secara universal simbolisasi banyak dikaitkan dengan unsur tanah, air, udara, dan api. Kekuatan tanah sebagai simbol dapat dirasakan sampai saat ini, unsur tanah lebih diperkuat oleh teritorialisme sebagai batas dari kekuasaan dan kepemilikan. Pada beberapa masyarakat pedalaman atau daerah-daerah yang belum terlalu berkembang, tanah yang masih berbentuk hutan belantara atau pun padang rumput banyak yang dikuasai sebagai tanah adat, meskipun sebagian dari masyarakat tersebut belum dapat dieksploitasi tetap dipertahankan. Sebagai contoh, pada saat penulis menangani perumahan bagi pengungsi eks masyarakat Timor Timur pasca jajak pendapat, masalah tanah adalah yang paling kompleks, sekalipun tanah yang kita hadapi adalah tanah yang hanya ditumbuhi oleh padang rumput yang gersang, masyarakat tidak dengan mudah melepas status penguasaan tanahnya. Tanah bagi masyarakat tertentu menjadikan simbol kelompoknya, manakala tanah tersebut dikuasai oleh masyarakat lain, masyarakat merasa kehilangan kekuatan dari wilayahnya. Pada masyarakat perkotaan, tanah pun memberikan simbol dari status sosial. Pada kasus perkotaan, tanah lebih dilihat dari sudut nilai ekonomis lokasi, manakala seseorang menujukkan penguasaan tanah di daerah Pondok Indah, Cendana, Dago, atau Cipaganti, maka ada satu pemahaman pada setiap individu, pemahan mengenai status sosial dari pemilik. Dalam dunia hewan, bahwa tanah di hutan belantara dikuasai dalam bentuk wilayah-wilayah kelompok binatang. Dalam dunia Hewa tanah juga sebagai simbol dari kekuasaan. Salah satu syarat pembentukan negara adalah wlayah yang dikuasai. Sehingga dengan demikian kita tidak perlu terheran-heran manakala peperangan sering terjadi dibelahan bumi ini, karena berebut wilayah sebagai simbol dari kekuasaan, semakin luas wilayah yang dikuasai maka semangkin besar kekuasaannya. Untuk itu negara- negara yang dianggap Super Power adalah negara dengan luas wilayah yang cukup besar. Batasan wilayah dalam hal ini tidak dalam arti wilayah yang secara resmi diakui oleh konvensi internasional, akan tetapi wilayah penguasaan, seperti kolonialisme. Mungkin saat ini Amerika Serikat adalah negara yang memiliki penguasaan wilayah terluas, hampir seluruh Eropa Barat, wilayah Jazirah Arab, wilayah eks Uni Sovyet, sehingga saat ini muncul kekhawatiran dari Rusia atas pengaruh penguasaan wilayah oleh Amerika Serikat akan berdampak terhadap melemahnya Rusia, fenomena ini dapat dilihat pada perang di Georgia.

Air sebagai simbol, Setelah tanah unsur air pun memberikan simbol-simbol tertentu bagi sebagian masyarakat di dunia ini, dari sisi theologi bila kita amati hampir semua agama menggunakan unsur air sebagai lambang dari kesucian atau pengsucian, pada umat Islam, air digunakan untuk mensucikan sebelum melakukan ibadah solat, pada umat Katolik air juga digunakan untuk sakramen permandian, begitu juga agam-agama lainnya, bahkan tidak hanya dalam kegiatan ritual agama saja, pada kegiatan-kegiatan budaya ataupun kegiatan dalam dunia mistik, seperti perdukunan, unsur air digunakan sebagai alat dalam proses ritualnya. Air memiliki simbol tertentu pada setiap manusia dan seluruh mahluk di muka bumi ini. Dalam dunia sains bahkan air digunakan sebagai indikator adanya kehidupan, para peneliti ruang angkasa dalam penjelajahannya terhadap planet-planet seperti Mars, Merkurius, Venus, dan yang lainnya, yang pertama-tama dicari adalah unsur air, manakala tanda-tanda air ditemukan, maka satu tahap dari tanda-tanda adanya kehidupan telah ditemukan. Dengan demikian air merupakan unsur kedua dari simbol.

Api sebagai simbol, api sebagai unsur energi dan unsur cahaya sudah secara tradisional digunakan sebagai simbol-simbol oleh masyarakat sejak jaman primitive, dalam berbagai kegiatan ritual unsur api digunakan sebagai lambang dari kekuatan di luar kekuatan manusia, bahkan bagi masyarakat penganut agama-agama yang lahir dari langit, api digunakan sebagai lambang Neraka manakala api tersebut kondisinya sulit dikendalikan, unsur api ini lebih berperan sebagai lawan dari air, karena air sifatnya dingin sedangkan api sifatnya panas.

Udara sebagai simbol, keberadaan udara sebagai simbol belum dipersepsikan memiliki kekuatan yang sama dalam kehidupan, walaupun udara dapat memberikan kenyaman, pengaruh udara dalam kehidupan saat ini belum menjadi fokus perhatian, walaupun gejala untuk memperhatikan sudah mulai dirasakan dengan menggejalanya pemanasan global.

Tubuh sebagai simbol, makna tubuh sebagai simbol ini sangat luas, hanya sedikit saja akan disampaikan dalam pembahasan, dikarenakan sangat terbatasnya kampuan penulis berkaitan dengan simbol dalam tubuh. Gambaran awal yang dapat disampaikan adalah mengapa Rasialis tumbuh di muka bumi ini, hal ini disebabkan adanya pemaknaan akan suku bangsa tertentu dari perwujudan fisik tubuh, warna kulit, rambut, mata, dsb. Bangsa Aria merasa bangsa yang paling unggul di dunia ini, sehingga bangsa lain dianggap buka manusia, atau di Amerika Serikat, mengangap masyarakat kulit putih sebagai masyarakat kelas satu, kulit hitam kelas dua dan kelit berwarna sebagai masyarakat kelas tiga. Semua itu hanya didasarkan pada perbedaan warna kulit, warna kulit dalam hal ini menjadi simbol. Sehingga pada saat Barack Obama menjadi kandidat presiden pertama Amerika dari kulit hitam telah menimbulkan suatu pembicaraan di seluruh belahan dunia tidak terbatas di negaranya. Antara pro-kontra dari kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam hal ini warna kulit dijadikan simbol, dan Barack Obama dijadikan simbol dari perjuangan Martin Lhuter dalam memperjuangkan kesamaan hak.

Tubuh sebagai simbol juga sempat diungkap oleh DR. Yuswadi dalam kuliah Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, pada tanggal 10 September 2008 “bahwa tubuh masih digunakan sebagai simbol hukuman, manakala seseorang melakukan kejahatan, maka tubuhlah yang menjadi sasaran hukuman, tubuh yang dikurung dalam penjara”, apakah dengan perlakukan tubuh tersebut sudah cukup, karena disamping tubuh sebetulnya ada aspek terpenting yaitu Roh, roh sebagai wujud dari jiwa dapat merasakan sakit walaupun fisiknya tidak teraniaya, sehingga secara universal simbolisasi dalam tubuh ini lebih dilekatkan pada raga bukan pada jiwa. Apakah karena jiwa tersebut berada pada dimensi lain, yaitu dimensi spiritual dan fisik berada pada dimensi material. Pada telaah ini perlu dilihat bahwa simbolisasi merupakan proses yang terjadi antara dimensi material dan spiritual, dan bagaimana keterkaitan antara kedua dimensi tersebut, ini terkait dengan pembahasan sebelumnya tentang Theologi dalam Arsitektur. Karena dengan kacamata theologilah simbolisasi akan sangat terasa dalam dunia spiritual. Melalui tulisan ini penulis memiliki tujuan untuk membawa simbolisasi sebagi ilmu dalam dunia arsitektur melalui cara pandang dari sisi spiritual, agar pemaknaan yang terjadi dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dimana tujuan arsitektur untuk menciptakan kahidupan dan penghidupan manusia yang semakin hari semakin meningkat dapat tercapai. Manakala simbolisasi arsitektur tidak memasuki dunia spiritual maka karya arsitektur tidak mengandung makna yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan penghidupan manusia, arsitektur hanya sebagai benda seni, indah untuk dipandang namun tidak memiliki jiwa, bahkan arsitektur hanya sebagai benda pajangan saja, hal ini dapat dirasakan pada foto dibawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 1. Bangunan tempat penjualan piano, apakah ini simbol yang benar ?, simbol tidak harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang analogis

Teori Simbolisme

Simbolismen menurut Frederick A. Jules “merupakan teknik perancangan utama yang memberi bentuk dan teknik yang dapat diterapkan pada hal-hal fungsional dan berdasarkan rencana dengan sedikit pertentangan (konflik)”. Selanjutnya dia menyatakan juga fungsi dari simbolisasi adalah “Penggunaannya secara luas karena simbol menghimpun semua bagian dari suatu masalah untuk memperkuat suatu arti dan memberikan keutuhan pada komposisi yang menyeluruh“. Hal yang menjadi sulit adalah bagaimana menuangkan simbol-simbol tersebut agar kita tidak terkecoh oleh perwujudan yang analogis seperti gambar di atas, manakala kita terjebak oleh bentukan analogis, maka akan terjadi pelanggaran sistem bangunan, pelanggaran tersebut akan merusak kaidah-kaidah seperti sistem struktur, sistem utilitas, bahkan sistem ruang, karena fungsi maupun sistem keteknikan tidak dapat mengikuti bentuk bangunan yang sudah given.

Raymond Firth, dia mengungkap simbolisasi dari sudut pandang manusia, Firth menyatakan simbol-simbol yang berkaitan dengan tubuh manusia dan rambut seperti dikuti oleh F.W. Dillistone, “menurut Firth simbol dapat menjadi sarana untuk menegakkan tatanan sosial atau untuk menggugah kepatuhan sosial, selain itu, sebuah simbol kadang-kadang dapat memenuhi suatu fungsi yang bersifat privat dan individual, meskipun sulit mengakuai adanya nilai dalam sebuah simbol yang tidak memiliki acuan kepada pengalaman sosial yang lebih luas“. Firth bahwa simbol mencakup dua entitas substansi, simbolisasi bersifat biner (berpasang-pasangan).

Terdapat perbedaan antara simbolisasi dan tanda-tanda, keduanya memiliki makna, seperti pada bangunan simbol diungkap tidak dalam bentuk analogis, maka bentuk-bentuk tersebut dapat memberikan makna yang beragam, tapi tanda tidak dapat memiliki makna yang beragam, tanda hanya akan memiliki sebuah makna. Perbedaan antara simbol dan tanda teresebut disampaikan oleh E. Turner “Dalam simbol-simbol ada semacam kemiripan (entah berupa metafora atao bersifat metonimia) antara hal yang ditandai dan maknannya, sedangkan tanda-tanda tidak memiliki kemiripan seperti itu …., tanda-tanda hampir selalu ditata dalam sistem-sistem tertutup, sedangkan simbol-simbol, khususnya simbol yang dominan, dari sirinya sendiri bersifat terbuka secara semantik. Makna simbol tidaklah sama sekali tetap, makna-makna baru dapatlah ditambahkan oleh kesepakatan kolektif pada wahan-wahana simbolis yang lama, termasuk juga individu-individu dapat menambahkan makna pribadi pada makna umum sebuah simbol“.

Cassier berpendapat “Manusia hidup dalam alam semesta simbolis. Bahasa, kesenian, dan agama adalah bagian-bagian alam semesta, semuanya itu merupakan berbagi unsur yang membentuk jaring simbolis, jaring kusut berliku-liku mengenai pengalaman manusia….. segenap kemajuan manusia dalam berpikir dan berpengalaman, memperhalus, memperkuat jaring ini …. Dari pada berurusan dengan barang-barang itu sendiri, manusia dapat dikatakan senantiasa berbicara dengan dirinya sendiri. Hal ini telah sedemikian rupa melingkupi dirinya sendiri dengan bentuk bahasa, gambar-gambar seni, simbol-simbol mistis, atau upacara-upacara keagamaan sehingga ia tidak dapat melihat atau mengetahui apa pun kecuali dengan pengantar medium buatan“. Disini terlihat bahwa dunia saat ini dilingkupi oleh jaring-jaring informasi yang telah membentuk simbolis.

Simbolisasi ini telah banyak menimbulkan paradoks dalam kehidupan masyarakat secara umum, maupun dalam perkembangan ilmu arsitektur, namun perlu ditegaskan pemahaman simbolisasi dalam konteks arsitektur khususnya dalam upaya penggalian teori arsitektur untuk perumahan dan permukiman penyusun tidak ingin terjebak dalam paradoks yang terjadi, penelusuran ini akan ditujukan pada simbolisasi yang membawa sebuah makna sebagai alat komunikasi antara wujud arsitektur perumahan untuk disampaikan kepada masyarakat sebagi pengguna maupun penghuni, dan diharapkan terjadi respon positiv dari masyarakat sebagai wujud dari tujuan arsitektur perumahan yaitu pembangunan masyarakat.

 Daftar Pustaka
DR. FX Rudiyanto Subagiyo, DR. Purnama Saluran, DR. Yuswadi Saliya, 10 – 11 September 2008, Kuliah-kuliah Filsafat Arsitektur, Methodologi Arsitektur, serta Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur,

Siao Shen Sien, Avelyn Lip, Sarah R & Lim Y.T, Orientas dan Manfaat Hong Sui, Central Kula Sakti, Jakarta.

F.W. Dillistone, 2002, Daya kekuatan Simbol, The Power of Symbols, Kanisius.

C. Snyder James, J. Catanese Anthony, 1991, Pengantar Arsitektur, Penerbit Erlangga, Jakarta

Socio-spatial Approach,

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 23 Maret 2009 by arsb

dalam penyediaan perumahan di Indonesia

oleh : Arief Sabaruddin

Pendekatan sebuah perencanaan melalui pendekatan socio-spatial, merupakan konsekwensi dari perubahan paradigma yang dimulai pada akhir tahun 1960-an, prioritas saat itu adalah berada diatara sosiologis dan geograpih, yang dikenal dengan “human Ecology“. Pendekatan ini merupakan sebuah jawaban dari berbagai konflik perkotaan di era 60-an dan sebagai dampak dari periode industrialisasi yang masih berlangsung sampai saat ini, yang membawa kehidupan global pada system kapitalis.

Menurut Gottdiener yang memberikan konsep kunci dari pembangunan kota, menyatakan bahwa “All social activities are also about space. Space is integral factor in everything we do. Understanding this idea means that, when we explore built environment, we must pay as much attentions to the way space helps define our behavior as other variables of a social or interctive kind. Attention to the spatial aspects of humam life means that design and architecture all play an important role in the way people interact.”, tata ruang lingkungan memiliki kandungan simbol-simbol dan tanda-tanda yang merepresentasikan pikiran-pikiran masyarakat. Ruang memiliki makna dari kehidupan dan penghidupan manusianya merupakan hal yang sangat penting dalam uraiannya Gottdiener.

Pedekatan “socio-spatial” diperkenalkan pada tahun 1990-an (Gottdiener dan Hutchison 2000), konsep kunci dari pada paradigma baru dalam penanganan perkotaan adalah bentuk ruang permukiman kota yang dikaitkan dengan kelembagaan perekonomian masyarakat kotanya. Namun bukan berarti pertumbuhan sebuah permukiman kota ditentukan hanya oleh pertumbuhan ekonomi. Bahwa pola ruang kota adalah ruang dari organisasi sosial yang berhubungan dengan aspek-aspek dari budaya, politik, sosial dan ekonomi, khususnya cara berinteraksi antara organisasi kemasyarakatan.

Socio spatial lebih mengkritisi secara tajam sebuah prespektif kapitalisme yang memiliki prespektif pengembangan tata guna lahan lebih banyak diintervensi oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya yang mengedepankan kebijakan investasi ekonomi dan eksploitasi sumber daya, seperti kita ketahui, hal ini pada era Orde Baru banyak lebih dikenal dengan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan tanpa mempertimbangkan kehidupan sosial masyarakat, sehingga pada saat sektor ekonomi tersebut tumbuh tidak diimbangi dengan pertumbuhan masyarakatnya. Sehingga kita tidak perlu pempertanyakan lagi mengapa RULI (rumah liar) tumbuh sangat pesat di Batam, hal ini merupakan salah satu contoh produk kebijakan ekonomi pada era Orde Baru. RULI merupakan sebagai sebuah hasil dari tata ruang perkotaan merupakan sebuah produk diskriminatif yang dibentuk oleh system kapitalis.

Berdasarkan pendekatan socio spacial pola pembentukan kota lebih ditunjang oleh pola sosial masyarakat yang membentuk kehidupan kota, bukan merupakan sebuah produk dari kekuatan-kekuatan tertentu atau badan-badan usaha yang memiliki kepentingan individu maupun kelompok sosial tertentu secara nyata, yang dituangkan dalam membangun sebuah sistem kehidupan yang dibentuk oleh kepentingan tertentu tadi dan kota menjadi bagian dari konsumsi bagi masyarakatnya. Hal ini merupakan sebuah produk dari sistem kapitalis industri, dimana masyarakat dibawa dalam pemikiran konsumtif. Konsumtifisme saat ini menjadi perhatian khusus setelah mekanisme industri terkendali, baiik yang menyangkut kualitas, ketepatan, serta tenaga kerjanya, perhatian para kapitalis bergeser pada konsumen, bagaimana memelihara konsumen.

Dalam lingkungan perkotaan yang merupakan sebuah produk kapitalis banyak menumbuhkan permasalahan ketidak-adilan hak masyarakat dan distribusi kesejahteraan masyarakat tidak seimbang. Demikian juga seperti pengamatan dari Friedrich Engels (1973), menyatakan bahwa kota-kota saat ini memperlihatkan gap yang sangat tinggi antara kaya dan miskin, walaupun beberapa pendapat berusaha melakukan pembelaan, dengan menyatakan bahwa kelompok masyarakat yang termarjinalkan tersebut merupakan sebuah konsekwensi dari ketidak berdayaan seseorang atau masyarakat tersebut terhadap perubahan dan keengganannya ditentukan oleh harga dirinya dan bekerja-keras, hal tersebut sudah menjadi bagian pemikiran yang melekat pada pola kapitalisme.

Telaah yang dapat ditarik dalam pendekatan arsitektural, tidak jauh dari pendekatan Gottiener dalam pendekatan perkotaan, bahwa perencanaan sebuah bangunan arsitektural harus mempertimbangkan dimensi sosial, dimana salah satu unsur dalam dimensi sosial tersebut adalah perilaku pengguna, baik pengguna langsung maupun penggguna tidak langsung. Bahwa sebuah objek arsitektur harus dapat merepresentasikan penggunannya bukan arsitekya. Estetika tumbuh dari keharmonisan antara manusia dalam berperilaku sebagai pengguna dengan perwujudan fisik masa dan ruang, sehingga perwujudan fisik dapat membangun manusia (pengguna bangunan) tahap demi tahap mengalami peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupannya.

Aspek-aspek sosial yang memiliki peran dalam menumbuhkan kehidupan dan penghidupan manusianya bukan hanya sekedar menampung fungsi-fungsi ruang dan bangunan, akan tetapi bagaiaman perilaku manusia dalam menjalankan aktifitas yang ditampung dalam fungsi bangunan tersebut dapat berlangsung, dan dapat meningkatkan kualitas manusia pada saat menjalankan fungsinya tersebut, jagi pendekatan dimensi sosial dalam arsitektur memiiki peran yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar kajian fungsi atau program funsional dalam arsitektur.

@rs.prod 2008

Daftar Bacaan

M Gottdiener & Budd Leslie, 2005, Key Concepts in URBAN STUDIES, Sage Publications, London

Bardo J.W & Hartman J.J, 1982, URBAN SOCIOLOGY, a systematic Introduction, F.E. Peacock Publishers, Inc. USA .

PENATAAN KEMBALI KAWASAN KUMUH MELALUI KESWADAYAAN MASYARAKAT

Posted in Karya Tulis Ilmiah on 6 Maret 2009 by arsb

Lahan Sebagai Modal Masyarakat dalam Upaya Pembangunan Yang Berkesinambungan

Oleh:

Arief Sabaruddin

Tulisan lengkap dapat dilihat pada Jurnal Permukiman Edisi Khusus 2004

 

Ringkasan

Salah satu target pada “Agenda Pengembangan Satu Juta Rumah” adalah peningkatan kualitas lingkungan dan pembangunan rumah susun, pada tahun 2004, ditargetkan oleh Departemen Kimpraswil tertangani 600.000 unit dan 1.600 unit rusun. Namun program ini dihadapkan pada beberapa kendala, khususnya kendala dalam penyediaan lahan untuk perumahan diperkotaan. Pada satu sisi harga lahan sangat tinggi dan ketersediaan lahan sangat terbatas, namun pada sisi lain masih banyak kondisi lahan perkotaan yang penggunaannya belum optimal dan belum sesuai dengan nilai lahan. Bahkan lahan tersebut umumnya terbangun secara spontan tanpa suatu perencanaan, yang mengakibatkan terciptanya kawasan kumuh. Dapat diibaratkan seperti mutiara dalam kerang, harga sebuah kerang sangat murah dijual oleh restoran sea food, namun harga mutiara sangat mahal dijual oleh toko perhiasan. Pada kawasan tersebut yang berstatus lahan milik, bila dikelola dan ditata dengan baik, maka lahan tersebut dapat dijadikan sebagai modal masyarakat, yang akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan. Makalah ini menguraikan perhitungan yang membuktikan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui penataan kembali kawasan permukiman dengan model Keswadayaan Masyarakat, dengan mengangkat model penataan kawasan Cigugur Tengah – Cimahi.

Kata Kunci:
Keswadayaan Masyarakat, Kumuh, Modal Masyarakat

 

Abstract

One of the main target in the “One Million Houses Development Agenda” is to Develop Neighbourhood upgrading and to construct Apartment for Low Income People (ALIP), in 2004, Ministry of Human Settlement and Regional Planning, would has been developed 600.000 unit and 1.600 unit ALIP. But, in this program, there are some obstacles, especially on land provision for ALIP constructing in urban. The land value on the urban areas is very high, because the price of land for housing is very expensive and too limited. But in the other side, land using has not yet optimal and not yet in accordance with its value. In fact, many urban areas were developed spontaneous without planning. The result of those problems, the area becomes a slum. Like pearl on to mollusks, the price of mollusks is very cheap at the sea food restaurant, but the price of pearl is very expensive at the jeweler’s store. On the private land of community’s status, if to be managed and to be arranged in a good manner, so that land shall be social overhead capital, such as to increase the welfare. This paper explains the calculating to evidence, that the community be able to increase their welfare through area rearrangement. For case study, at Cigugur Tengah – Cimahi as a SELF-SUPPORTING SOCIETY model.

 

Key Words:
Self-Supporting Society, Slum Area, Social Capital

 

 

Pendahuluan

 

Latar Belakang

Rumah merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter bangsa, karena dari rumah manusia tumbuh dan belajar, setelah elemen rumah elemen berikutnya yang juga cukup penting adalah lingkungan tempat manusia bermukim. Untuk itu pembangunan perumahan dan lingkungan permukiman selayaknya digunakan sebagai landasan dalam membangun bangsa. Sejalan dengan hal tersebut, dengan diberlakukannya konsep Rumah Sederhana Sehat, melalui Kepmen 403/KPTS/M/2002, diharapkan masyarakat berpendapatan rendah akan mendapatkan rumah yang sehat, yaitu rumah yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga. Seperti pepatah di dalam raga yang sehat terdapat jiwa yang sehat, begitu pun, dalam rumah yang sehat terdapat keluarga yang sehat, sehat dalam arti luas jasmani maupun rohaninya. Demikian selanjutnya, bahwa standar kesehatan tersebut dibutuhkan sampai tingkat universal, seperti uraian diatas, dimulai dari rumah, lingkungan, kota, dan negara.

Setelah hampir menjelang 60 tahun merdeka, kita belum mampu membangun landasan dalam pembangunan bangsa, terbukti, dengan peningkatan kebutuhan rumah sampai dengan tahun 2003 hampir mencapai 6 juta. rumah, belum lagi pertumbuhan kebutuhan rumah baru sebagai akibat pertambahan penduduk setiap tahunnya mencapai 800.000 unit. Disamping itu hampir mencapai 14 juta unit rumah berada dalam kondisi kurang layak huni. tercatat tidak kurang dari 10.065 lokasi merupakan permukiman kumuh dengan luas 47.393 ha., dan dihuni oleh tidak kurang dari 17,2 juta jiwa.

Gerakan Nasional “Pengembangan Satu Juta Rumah”, (GN-PSR) merupakan upaya mempercepat penyediaan perumahan rakyat, namun upaya ini menuntut effort/ usaha yang gigih. Karena dalam memenuhi target kebutuhan rumah baru saja (800.000 unit/tahun), dari program tersebut hanya akan tersisa 200.000 unit. Dan sisa tersebut diarahkan untuk memenuhi backlog perumahan, maka diperlukan waktu 30 tahun ke depan, belum lagi 14 juta unit rumah yang berada dalam kondisi kurang layak huni. Kenyataan lain dari target pembangunan perumahan sederhana, pada tahun 2002, dari target 130.000 unit yang terealisasi hanya 39.979 unit, begitu juga di tahun 2003 direncanakan akan dibangun 90.000 unit, tetapi pada 30 September lalu baru mencapai 59.275 unit. Tampaknya akan menjadi suatu penantian yang sangat panjang, sampai dengan beberapa generasi, bila pembangunan perumahan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme seperti saat ini.

Seiring dengan pesatnya pertambahan penduduk, khususnya diperkotaan, memberikan pengaruh besar pada peningkatan kebutuhan dan pembangunan rumah. Ironisnya pola pembangunan yang dilakukan pada akhirnya telah banyak memusnahkan lahan produktif. Konversi lahan pertanian menjadi perumahan tersebut telah merubah fungsi irigasi menjadi drainase dan sewerage permukiman, yang berakibat pada banyaknya permukiman yang terkena bencana banjir. Selain itu dampak makronya adalah rentangnya ketahanan pangan, yang seharusnya bangsa yang mampu melakukan swasembada pangan justru menjadi bangsa pengimpor beras. Sedangkan untuk membuka lahan baru untuk pertanian akan menuntut biaya yang cukup besar karena harus membangun kembali infrastruktur baru seperti irigasi baru.

Selain itu arah pembangunan perumahan terus bergerak kearah pinggiran kota, menuntut biaya investasi tinggi, karena setiap pembangunan perumahan harus dibarengi dengan infrastruktur, sarana dan prasarana yang memadai. Yang pada akhirnya juga akan meningkatkan biaya pengeluaran keluarga dikarenakan terjadinya peningkatan biaya transportasi, akibat dari tempat tinggal jauh dari tempat kerja. Fenomena tersebut tampak di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, termasuk Medan. Banyak tenaga kerja di Jakarta yang bertempat tinggal di luar kota, seperti Bekasi, Tangerang, atau bahkan Bogor. Waktu yang diperlukan untuk mencapai tempat kerja banyak yang tidak kurang dari 1½ – 2 jam, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan rata-rata 4 jam, artinya 50% dari waktu kerja yang 8 jam. Betapa tidak efisiennya pola kehidupan seperti ini. Satu jawaban dari penyebab tersebut adalah belum optimalnya pengelolaan lahan perkotaan. Makna permukiman telah bias, Permukiman yang diartikan sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan, sudah tidak dapat dimaknai oleh sebagian besar masyarakat perkotaan.

Umumnya kota-kota besar belum memberikan tempat tinggal yang memadai bagi warganya, bahkan sebagian kawasannya berada dalam kawasan yang tidak layak huni dengan tingkat kepadatan yang sangat tinggi diatas 500 jiwa/ha, dengan infrastruktur perumahan di bawah standar. Kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan kumuh.

Persoalan penyediaan perumahan sebenarnya lebih merupakan masalah lokal dan kebutuhan individual. Ini dapat ditunjukkan dengan besarnya peran swadaya masyarakat di dalam pengadaan perumahan. Karenanya perlu pembatasan campur tangan pemerintah dalam penanganan persoalan lokal melalui penyelenggaraan perumahan dan permukiman yang terdesentralisasi. Dalam kerangka desentralisasi, penyelenggaraan perumahan dan permukiman tidak dapat terlepas dari agenda pelaksanaan tata kepemerintahan yang baik di tingkat lokal, yaitu yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, kesetaraan, daya tanggap, wawasan ke depan, pengawasan, penegakan hukum, serta efisiensi dan efektivitas.

 

Pokok Masalah

Persoalan pokok perumahan diperkotaan adalah tingginya harga dan keterbatasan lahan untuk perumahan. Akibatnya harga rumah yang memenuhi ketentuan sehat dan layak huni diperkotaan menjadi sangat tidak realistis, bahkan beberapa kota besar hampir atau bahkan tidak sama sekali memiliki kesempatan dalam memberikan ruang untuk membangunan Rumah Sederhana Sehat. Sejalan dengan hal tersebut dan untuk dapat meningkatkan pembangunan perumahan dan permukiman diperkotaan ternyata masih banyak lahan perkotaan yang pemanfatan dan pengelolaannya belum optimal, khususnya lahan di permukiman kumuh, yang seharusnya menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Hipotesa

Keterbatasan lahan diperkotaan untuk membangun rumah merupakan permasalahan pokok, selain tingginya nilai lahan dan ketersediaan lahan, namun juga masih banyak kondisi lahan perkotaan yang penggunaannya belum optimal, khususnya dari aspek pergerakan perekonomian didalamnya. Solusi pembangunan perumahan dengan memilih lahan dipinggiran kota bukanlah satu solusi yang baik untuk masa mendatang, karena pendekatan demikian pada akhirnya kurang memberikan kesejahteraan masyarakat kota, karena pada akhirnya mereka harus membayarnya dengan mahal, mereka harus mengeluarkan biaya hidup yang lebih tinggi, karena sarana transportasi dan infrastruktur yang kurang memadai, belum lagi akibat menjauhkan hunian dengan pusat aktivitas menimbulkan kemacetan, yang pada akhirnya membutuhkan energi dan waktu yang lebih besar. 1.Lahan kota sebagaimana kita ketahui menyimpan potenis dalam bentuk nilai lahan yang sangat tinggi selama ini belum dapat dirasakan oleh masyarakat, sejauh mana masyarakat dapat merasakan manfaat dari nilai lahan perkotaan tersebut. 2. Dan bagaimana masyarakat mendapatkan akses agar dapat merasakan keuntungan dari tingginya nilai lahan tersebut?

 

Maksud dan Tujuan

Kajian ini dimaksudkan menggali potensi masyarakat yang tinggal di kawasan kumuh, dalam penyediaan perumahan sehat dan layak huni. Lahan sebagai kendala dalam pembangunan perumahan pada sisi lain memiliki potensi cukup besar. Melalui program peningkatan kualitas lingkungan yang dilakukan secara keswadayaan, melalui pelibatan investasi masyarakat diharapkan akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

METODE

Pendekatan kajian ini melalui penyusunan model disain kawasan sebagai satu alat bantu dalam merumuskan teori atau konsep yang memiliki sifat perangkat tidak berwujud / non fisik, sehingga teori maupun konsep tersebut menjadi dapat terukur karena wujudnya menjadi nyata / sebagai benda fisik. Kajian ini merupakan pengkajian perilaku masyarakat dan lingkungannya, yang dituangkan dalam konsep umum, selanjutnya upaya penerapan sebagai alat evaluasi model serta mematangkan konsep dalam penanganan kawasan kumuh di atas lahan milik.

Dalam suatu investasi pembangunan diperkotaan, umumnya investasi lahan memiliki nilai investasi yang paling besar dibandingkan dengan investasi fisik atau infrastruktur diatasnya, keadaan ini digunakan sebagai hipotesa awal, yang menunjukkan bahwa masyarakat yang menguasai lahan perkotaan dalam konteks kajian ini adalah masyarakat yang menghuni kawasan kumuh, pada dasarnya mereka telah memiliki potensi modal yang amat besar, modal tersebut dapat digunakan sebagai modal dalam peningkatan ekonomi untuk mecapai tingkat kesejahteraan.

Pengujian dengan metode evaluatif digunakan dalam upaya pembuktian hipotesa tersebut, sehingga perlu disusun model pada skala kawasan. Lingkup evaluasi yang dilakukan meliputi kehandalan ekonomi, budaya, sosial dan fisik lingkungan permukiman, kajian dilakukan dengan perhitungan matematis pembiayaan dan kelembagaan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.