Hak Azasi Alam vs Hak Azasi Manusia

Hak Azasi Alam vs Hak Azasi Manusia (HAA vs HAM)

oleh : Arief Sabaruddin (peneliti madya bidang perumahan dan permukiman)

Ledakan penduduk saat ini telah menciptakan konflik ruang antara manusia dengan elemen-elemen alam seperti; air, tanaman, udara, dan mahluk hidup lainnya selain manusia. Alam sebagaimana manusia juga memerlukan ruang atau tempat, ketika ruang alam tersebut direbut oleh manusia maka elemen alam akan terusir dari tempatnya.

Fenomena yang sering kita lihat ketika ruang air dijarah oleh manusia, maka air tersebut akan tersingkirkan dari tempatnya, dan air akan mencari ruang baru, namun sayang bahwa populasi manusia selalu bertambah, da jumlahnya pada kahir abad 20 ini semakin bertembah pesat, sampai saat ini mendekati sekitar 6 milyar penduduk, sedangkan air dari sejak penciptaannya sampai saat ini jumlahnya tetap, hanya wujudnya yang selalu berubah; dapat berbentuk cair, gas atau padat, bahkan tubuh manusia 75% merupakan air.

Ketika ledakan penduduk yang tidak tertahankan lagi, maka manusia yang memerlukan ruang untuk memenuhi kehidupan dan penghidupannya, pada akhirnya menjarah ruang/tempat dari unsur kehidupan atau mahluk lainnya. manusia membuka lahan baru untuk permukimannya dengan menyabot ruang air, tanaman, termasuk udara. ungkapan menyabot dalam arti kita tidak pernah mempertimbangkan kebutuhan ruang bagi elemen kehidupan lainnya selain manusia.

akibat ulah manusia yang demikian, pada akhirnya mengakibatkan ruang elemen alam seperti air berkurang, dan sesungguhnya ruang air tidak pernah berkurang, apa yang terjadi, ketika air mencari tempat dia akan masuk ke tempat yang telah dihuni oleh manusia. kejadian tersebut kita sebut sebagai BENCANA ALAM BANJIR, sudah cukup adilkah kita memvonis air sebagai unsur bencana, pada hal manusia sebagai sumber dari bencana, yaitu ketika manusia menampati sebuah tempat dan tempat itu tempat air kita tidak pernah menempatkan kembali tempat air secara layak, atau bahkan terpikirkan sedikitpun tidak, seperti kita lihat ketika pembangunan wilayah konservasi, apakah kita selalu memikirkan ruang air untuk tinggal di bawah akar sebuah tanaman ? lebih banyak tidak kita pikirkan. atau ketika daerah konservasi, seperti ruang terbuka hijau, bantara sungai dijarah untuk perumahan secara liar, dan ketika pemerintah akan menertibkan, maka masyarakat berteriak dan menuntut Hak Azasi untuk tinggal, manusia terlalu egois untuk memeuhi kepentingan/hak hidupnya sedangkan hak yang lain tidak diperdulikan.

Akan kah kita berani juga mengangkat Hak Azasi Air, Udara, Tanaman, dsb, disamping Hak Azasi Manusia ? dan bencana tidak kita lempar penyebabnya pada alam akan tetapi bencana sebagai konsekwensi dari ulah manusia, sebagaimana diriwayatkan dalam kita suci; pada awal penciptaan Tuhan telah menawarkan kekhalifahan di muka bumi ini kepada seluruh mahluk namun tak satupun menyanggupi kecuali manusia, maka dari itu Tuhan memberikan manusia kekuasaan di muka bumi sebagai wakil Tuhan, untuk itu Tuhan memberikan manusia AKAL, sebagai modal untuk melaksanakan tugasnya, namun sayang dengan akal itu manusia menjadi sombong dan menjadi mahluk paling egois di muka bumi ini.

akibat kesombongan dan keegoisannya itu telah mengakibatkan kerusakan alam dan lingkungan tempat manusia hidup juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: