ESTETIKA

oleh : Arief Sabaruddin

Estetika pada level filsafat dapat diartikan sebagai sebuah tindakan atau sikap baik yang dapat diterima baik oleh pihak lain. Estetika pada kasus arsitektur, dapat dipadankan dengan tindakan arsitek dalam pengolahan objek arsitektur itu sendiri, hal ini sering kita pahami sebagai sebuah proses DISAIN. Sehingga disain merupakan sebuah tindakan seorang arsitek dalam mengatur (ordering). Pada gerak tindakan memiliki arah gerak keseluruh penjuru, untuk memperlihatkan bahwa gerak tindakan sangat ditentukan oleh pertimbangan nilai-nilai dan ilmu pengetahuan sebagai instrumen yang digunakan manusia, dan melalui akalnya manusia dapat mengembangkan nilai maupun ilmu, perpaduan antara nilai dan ilmu tersebut menghasilkan kepahaman. Paham merupakan salah satu kunci dari keberhasilan dalam bertindak, dan hasil dari pada tindakan adalah ESTETIKA. Estetika menurut George R. Terry adalah “Art is personal creative power plus skill in performance“, sedangkan estetika dalam arsitektur disampaikan oleh Andrian Snodgrass dan Richard Coyne, adalah “beauty will result from the form and correspondence of the whole, with respect to several parts, of the parts with regard to each other, and of these again to the whole; that the structure may appear an entire and complete body, wherein each member agrees with the other, and all necessary to compose what you intend to form“. Nampak bahwa estetika merupakan suatu hasil karya dalam bentuk fisik ataupun non fisik, dan bila dikaitkan dengan arsitektur tindakan tersebut tentunya dalam bentuk fisik yaitu Form and Space, yang saling berinteraksi antara nilai dan ilmu  yang masing-masing memiliki kecenderungan arah yang dituangkan dalam sistem bentuk yang utuh dan menyeluruh (ordering
Principle), pada akhirnya eastetika tersebut akan membawa pesan atau makna yang disampaikan oleh bentuk fisik dan non fisik.

Estetika menurut Cecep Sumarna estetika itu buka pada perwujudan fisik saja akan tetapi pada aura yang bersifat metafisik, tidak tampak sekaligus tidak sensual, estetika yang sesungguhnya menurut Cecep terletak pada dimensi ketuhanan dan menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, untuk selanjutnya dia mendefinisikan estetika sebagai bagian tri tunggal, yakni teori tentang kebenaran (epistemologi), kebaikan dan keburukan (etika) dan keindahan itu sendiri (estetika). Hal ini sangat menguatkan sekali terhadap pemahaman estetika dimana beberapa pemikir senantiasa mengkaitkan estetika dengan perilaku dan dalam tindakan manusia, tindakan dan perilaku tersebut dikaitkan dengan ketuhanan dan kemanusiaan. Mungkin hal ini pada tingkat teologis dapat dikaitkan sebagai hubungan manusia dengan tuhannya dan hubungan manusia dengan sesama mahluk ciptaan Tuhan-nya (hablumminallah dan hablumminnas).

Pemikiran di atas secara teoretis sejalan dengan pemikiran yang disampaikan oleh Andrian S dan Richard C yaitu “Architecture provides the quintessential interpretation of divinity, or at least of the relationship between the human and the divine“. Bahwa aspek ketuhanan merupakan nilai-nilai terdalam dalai wujud arsitektur, sehingga kelahiran estetika tidak dapat dilepaskan dari aspek nilai-nilai ketuhanan, dari ketiga referensi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam proses disain yang akan menghasilkan ESTETIKA, maka seorang perancang (arsitek) harus memiliki tiga kecerdasan, yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan intelegensia (ESIQ), ESIQ seharus menjadi modal dasar dari seorang perancang untuk dapat menuangkan karya-karya yang memiliki keabadian, walaupun dalam hal ini keabadian diterjemahkan bukan keabadian mutlak, karena tak satu pun produk manusia memiliki keabadian mutlak, karena hanya satu yang memiliki sifat abadi dan Maha Abadi, yaitu Tuhan yang memiliki sifat kekal “Al Badii” atau “The Everlasting“. Namun bukan berarti manusia tidak boleh memiliki keabadian, hanya keabadian yang sifatnya tidak mutlak, masih ada batas-batas.

Sebuah karya arsitektur yang memiliki nilai seharusnya dapat memberikan pengaruh terhadap penghuninya, tentunya pengaruh yang diharapkan adalah pengaruh positiv, dimana penghuni dari bangunan tersebut dapat mengembangkan dirinya secara bertahap, untuk menuju titik kesempurnaan yang jaraknya sangat jauh sekali, walaupun konon seorang nabi sekali pun belum ada yang dapat mencapai titik kesempurnaan, karena kesempurnaan hanya miliki Yang Maha Sempurna dan manusia tidak mungkin mencapainya. Akan tetapi upaya mendekati kesempurnaan itulah yang menjadi target arsitektural bagi penghuninya.

Kebaikan dengan kata lain keindahan (ESTETIKA) merupakan kata sifat yang berhubungan dengan keadaan seseorang yang dirasakan secara positiv, seperti; kemakmuran, kesejahteraan, keindahan, kenyamanan, keselamatan, keamanan, kemudahan, kesehatan, keberuntungan, dan lain sebagainya. Bukan keadaan yang sebaliknya, seperti; kemiskinan, kesulitan, kenistaan, kebodohan, kelaparan, dan lain seterusnya. Dapat disimpulkan bahwa kebaikan itu merupakan hasil dari suatu action/perbuatan (tindakan) dengan hasil baik, bagus, indah, dan seterusnya. 

Tindakan , merupakan aktifitas yang dilakukan oleh mahluk hidup termasuk manusia dengan arah tujuan yang jelas. Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, tindakan adalah langkah atau perbuatan yang berhubungan dengan sesuatu yang dilakukan, “sesuatu yang dilakukan untuk mengatasai sesuatu” demikian pengertian dalam KBBI tersebut. Dalam bertindak manusia dan hewan memilki perbedaan, hewan dalam melakukan tindakan dilakukan oleh  insting, sebagai contoh sekelompok burung migran akan berpindah tempat pada musim tertentu untuk melindungi dari perubahan cuaca, hal ini merupakan upaya menghindari dari kemusnahan atau sekedar untuk berkembang biak. Berbeda dengan manusia, tindakan manusia digerakkan oleh akal, konon pada tahap penciptaan awal, Tuhan pernah menawarkan pengelolaan alam semesta sejauh mahluk Tuhan dapat menjangkau kepada seluruh alam semesta termasuk manusia, namun tidak ada satupun yang menyanggupi kecuali manusia. Karena dalam melakukan pengelolaan alam semesta ini sangat sulit dan berat, dan itu menjadi tugas utama manusia yang telah disanggupi oleh manusia sendiri. Maka untuk itu Tuhan memberikan manusia AKAL yang manjadikan keistimewaan dibandingkan dengan mahluk lainnya. Dalam Kitab Suci bagaimana peran akal ini banyak dijelaskan dalam beberapa ayat, sebagian diantaranya sebagai berikut, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran 3:190), “Dan sesungguhnya Kami tinggalkan daripadanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal“. (Al Ankabuut 29:35).” Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”(Ar Ruum 30:24).

Dengan diberinya akal pada manusia, telah mengakibatkan sebagian insting manusia tidak terlalu berkembang, banyak tindakan manusia dilakukan dengan akal, dari akal telah melahirkan pemikiran, seperti banyak diuraikan dalam kitab suci “…….. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir“. Dalam kedua konteks ini saya berkeinginan untuk membatasi permasalahan bahwa tindakan manusia dikendalikan melalui pikiran yang dicerna oleh akal. Selanjutnya bagaimana pikiran itu terjadi?, dapat diterangkan disini melalui tahapan onthologis, adalah sebagai berikut : pada banyak ayat dalam Kitab Suci diungkapkan tentang adanya tanda-tanda, seperti kilat, air hujan, menghidupkan bumi, dan lain sebagainya, itu semua merupakan tahapan onthologis dari fenomena alam, namun Tuhan menyatakan itu tidaklah cukup hanya dengan mengetahui definisi dari fenomena tersebut, karena seperti kilat dalam tahap onthologis, oleh Tuhan manusia diperintahkan untuk memikirkan yang lebih dalam, terhadap kandungan makna sebagai tanda-tanda (simbol) yang dapat memberikan manfaat bagi manusia dan alam semesta. Perintah ini merupakan pertanda manusia harus mau memasuki tahapan pemahaman yang lebih dalam. Kilat, air hujan, ataupun kehidupan bumi harus dilihat dari epistemologinya. Dengan demikian lahirlah ilmu pengetahuan disemua bidang. Manusia dengan akal mampu untuk memahami sesuatu, dimana proses pemahaman tersebut melalui pemikiran, yang dapat menghasilkan ilmu pengetahuan. Hasil dari sebuah pemikiran adalah kebenaran atau kekeliruan (kesalahan), dimana kebenaran tersebut itu bersifat relatif, sebuah ilmu pengetahuan baru dapat dianggap benar pada saat ini, dan mungkin saat nanti dapat menjadi salah dengan ditemukannya ilmu pengetahuan baru lainnya, sebagaimana kita saksikan fenomena pada teori evolusinya Darwin, yang saat ini dengan banyaknya ditemukan teori baru mulai menunjukkan adanya banyak kesalahan. Benar dan salah merupakan produk dari akal dan pikiran manusia yang dituangkan dalam ilmu pengetahuan.

Kebaikan serta tindakan di atas digerakkan oleh nilai-nilai dasar yang terkandung dalam jiwa manusia sebagai landasan hidup, dimana terkandung nilai-nilai dalam bentuk sifat baik dan sifat buruk (dalam bagan sifat positiv dan negativ). Sifat kebaikan (positive) terungkap melalui cinta, kasih, pemurah, dsb. Pada sisi lain sifat keburukan (negative) adalah lawan kata dari sifat kebaikan, seperti benci, sombong, iri, dsb. Sifat-sifat dasar tersebut sudah seharusnya selalu melekat pada setiap manusia, kita tidak perlu menghilangkan kedua sifat tersebut, kerena keduannya merupakan kekuatan dan landasan manusia dalam melakukan tindakan atau perbuatan, seperti diuraikan pada bagian di atas.

Dalam uraian-uraian sebelumnya dapat kita simpulkan bahwa setiap tindakan manusia dipengaruhi oleh dua buah kutub yang saling menjauh, kedua kutub tersebut yaitu nilai-nilai serta ilmu pengetahuan, nilai-nilai lahir dari kepercayaan yang secara universal dituangkan dalam spiritualitas. Pada kutub kedua ilmu pengetahuan bergerak didorong oleh kemampuan manusia karena memiliki akal. Sedangkan tindakan mengandung proses pemilihan pertimbangan antara kedua kutub tersebut nilai dan ilmu. Dalam konteks theologi keputusan yang diambil tentunya harus berdampak pada keberuntungan (baik), sedangkan keberuntungan memiliki nilai-nilai keindahan atau estetika.

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”(QS Al’Maidah 5:100).

Nilai nilai senantiasa berkembang dan arah perkembangannya senantiasa pada arah vertikal, hal ini dimaknakan sebagai pergerakan nilai-nilai pada seorang manusia, memiliki kecenderungan pada hal ghaib, dan manakala hal ghaib tersebut dihubungkan dengan ketuhanan, maka gerakan tersebut dinyatakan sebagai gerak vertikal keatas, namun bila hal ghaib tersebut dihubungkan dengan hal-hal mistik, maka gerak tersebut merupakan gerak nilai vertikal ke bawah. Perkembangan nilai ini sebagai perwujudan dari pekembangan kecerdasan spiritualitas seseorang.

Dengan demikian estetika merupakan perpaduan dari nilai-nilai dan ilmu pengetahuan yang memadukan secara harmonis antara beberapa aspek, meliputi keharmonisan dengan alam dan lingkungan dimana bangunan tersebut berdiri, estetika terwujud dari nilai-nilai spiritual yang dituangkan dalam perancangan itu merupakan ibadah, sehingga dalam proses disain seorang arsitek membawa nilai-nilai kemanusia, selanjutnya pertimbangan komposisi dan proporsi serta pengolahan elemen-elemen dasar melalui pencahayaan, warna, udara dan temperatur, serta pada akhirnya estetika menuntut kejujuran.

Kesimpulan

Estetika merupakan hasil dari tindakan manusia dalam melakukan perbuatan yang mempertimbangkan pada dua landasan, yaitu landasan nilai-nilai yang dikandung pada tingkat spiritual, sosial dan budaya  serta landasan ilmu pengetahuan. Kedua landasan tersebut akan memberikan pertimbangan keserasian dengan lingkungan, harmonis dengan kondisi alam serta pemanfaatan unsur alam dalam melakukan pengelolaan dan pengolahan elemen arsitekturnya, serta melalui nilai-nilai spiritual akan mendorong seorang perancang pada tindakan disain yang dilakukan dengan sepenuh hati, tulus serta menunjung kejujuran.

Daftar Pustaka

Agustina Ari Ginanjar, 2005, “ESQ Emotional Spiritual Quotient” Penrbit ARGA, Jakarta.

Snodgrass Andrian & Coyne R, 2006, “Interpretation in Architecture, Design as a way of thinking“, Routledge, London and New York.

Thahan, Mustafa M, 2007, “Pemikiran Moderat Hasan Al Banna“, Harakatuna Publishing, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: