Mengapa Indonesia Perlu Rumah Susun

oleh : Arief Sabaruddin

Peneliti dan Arsitek Perumahan dan Permukiman

Rumah merupakan elemen penting dalam agenda pembangunan nasional, seperti halnya kesehatan, pendidikan, dan banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Rumah merupakan kebutuhan dasar setelah sandang dan pangan. Rendahnya daya beli masyarakat saat ini, serta tingginya pertumbuhan kebutuhan rumah saat ini masih merupakan masalah utama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagai Visi Nasional, sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 45. secara formal hal ini telah dicetuskan didalamnya yaitu pasal 28 h ayat (1) yang menyatakan bahwa : ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan”. Hal ini dirumuskan kembali dalam Undang-undang No.4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, pasal 5 yang menyatakan bahwa ”Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur”. pemerintah berupaya mendorong perwujudan cita-cita bangsa khususnya disektor penyediaan perumahan dan permukiman yang sehat, aman, nyaman, layak huni dan terjangkau serta produktif.

Mengacu pada cita-cita luhur negeri ini, sebagai out come dari pembangunan perumahan adalah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, hal ini mengandung arti bahwa diharapkan terjadi perubahan sosial yang dibentuk oleh pembangunan perumahan. Bahwa penyediaan perumahan yang layak huni dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah saat ini terkendala oleh gap antara daya beli masyarakat dengan biaya investasi dalam pembangunan rumah. Tingginya harga rumah disebabkan oleh kenaikan bahan bangunan serta harga lahan. Lahan merupakan persoalan yang semangkin hari semangkin sulit, selain harganya terus meningkat juga ketersediaan lahan untuk perumahan semangkin sulit, khususnya di perkotaan. Konversi lahan produktif tidak dapat dihindarkan, pertumbuhan kota ke arah horizontal (urban sprawl) telah menjadi beban tersendiri dikarenakan oleh biaya penyedian infrastruktur, dan living cost akan menjadi mahal serta kerusakan lingkungan akan semakin parah. Pada kondisi demikian pola penyediaan perumahan secara vertikal mutlak untuk diterapkan agar pembangunan kota lebih ringkas dapat semakin (compact city). Kesadaran ini telah dirasakan oleh Pemerintah, untuk itu program 1000 tower dicanangkan untuk melakukan percepatan penyediaan perumahan secara vertikal.

Pada sisi lain kebutuhan rumah terus menerus meningkat tiap tahunnya, hal ini disebabkan oleh peningkataa jumlah penduduk di perkotaan terutama diakibatkan oleh urbanisasi. Hal ini telah mendorong pertumbuhan rumah baru saat ini telah mencapai 800.000 unit per tahun serta pertumbuhan keluarga baru mencapai 1.400.000 keluarga muda per tahunnya [BPS 2000], menurut undang-undang perkawinan tahun 1974, usia perkawinan minimal bagi wanita adalah 16 tahun sedangkan laki-laki adalah 19 tahun, dengan demikian tigkat kebutuhan perumahan sejalan dengan pertumbuhan pasangan baru indentik dengan angka 1.400.000 unit, dan bila ditinjau dengan angka tersebut maka cukup besar kebutuha perumahan di Indonesia,  belum lagi backlog sampai dengan tahun 2005 ini telah mencapai 7,2 juta unit rumah, ditambah lagi dengan 14 juta unit rumah masyarakat berada dalam kondisi yang kurang layak huni serta tidak kurang dari 10.065 lokasi perumahan merupakan kawasan kumuh dengan luas 47.393 ha atau dihuni oleh kurang lebih 16,2 juta jiwa.

Besarnya kebutuhan perumahan yang belum dapat terfasilitasi saat ini, menunjukan bahwa penyediaan perumahan memegang peran strategis dalam pembentukan karakter bangsa. Dan penyediaan perumahan secara vertikal sudah menjadi solusi yang dipilih di beberap kota besar di dunia termasuk Indonesia saat ini. Berangkat dari pengalaman beberapa negara-negara Barat (Eropa dan Amerika) yang telah lebih dahulu melakukan program penyediaan perumahan secara vertikal pada skala masal, pada akhirnya dalam proses perjalanan waktu banyak mengalami persoalan sosial yang berkaitan dengan perubahan perilaku dari penghuni, banyak yang berakhir dengan meninggalkan vandalisme, kriminalitas, maupun pornografi [Newman 1978]. Berangkat dari pengalaman tersebut, kiranya pola serupa yang sedang berjalan saat ini di Indonesia dalam penyediaan rumah vertikal secara masal dalam program 1000 tower, masih belum dilakukan penelitian mengenai pembentukan budaya masyarakat di rumah susun. Penelaahan ini akan menggali sejauhmana ruang-ruang publik dalam rumah susun sederhana membentuk perilaku penghuni dalam kegiatan sehari-hari sebagai individu maupun sebagai komunitas, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rujukan dalam penyusunan kebijakan dalam penyediaan perumahan bersusun dengan mengantisipasi perubahan budaya masyarakat penghuni ke arah yang lebih baik, dalam peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupannya.

Rintisan pembangunan rumah susun di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1974, dimana flat housing untuk pertama kalinya telah diuji-cobakan oleh Puslitbang permukiman di Turangga, selanjutnya pada tahun 1980 an pembangunan mulai marak dilakukan oleh kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, baik yang dilakukan oleh Pemerintah daerah maupun oleh Perumnas, pembangunan lebih banyak di arahkan pada penataan kembali kawasan kumuh, sampai dengan awal tahun 2002, pemerintah pusat mulai memberikan perhatian besar pada pembangunan perumahan secara vertikal, yang tidak hanya ditujukan pada penataan kawasan kumuh, akan tetapi lebih pada penyediaan perumahan dengan pertimbangan efisiensi lahan, yang disebabkan oleh semakin sulit dan mahal harga lahan.

Adakah komen anda tentang ini ?

Satu Tanggapan to “Mengapa Indonesia Perlu Rumah Susun”

  1. tulisannya sangat menginspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: