Pengaruh Revolusi Informasi terhadap Arsitektur Perumahan di Indonesia

Oleh : Arief Sabaruddin

Abad ke –15 merupakan tanda dimulainya satu revolusi Gutenberg, dengan dimulainya penemuan mesin pencetakan tulisan kedalam bentuk buku, Johannes Gutenberg dianggap sebagai pelopornya. Revolusi gutenberg ini membuka peluang baru dalam penyebaran ilmu pengetahuan, banyak ilmu pengetahuan yang telah ditemukan sebelumnya telah diterbitkan dalam bentuk buku partai banyak untuk disebar luaskan.

Penyebarluasan ilmu pengetahuan telah memungkinkan ilmu pengetahuan itu daibaca dan dikembangkan oleh orang lain, karena ilmu pengetahuan itu sendiri telah berkembang jauh sebelum revolusi gutenberg, seperti buku aljabar pertama ditulis oleh Diophantus di Alexandria pada tahun 250 M, bahkan ketinggian matahari telah dihitung di Cina sebelum kelahiran Kristus.

Dengan penemuan mesin cetak ini telah mempercepat perkembangan ilmu pengetahuan sehingga penemuan-penemuan baru lainnya banyak ditemukan, pada akhirnya banyak mesin-mesin baru ditemukan dan digunakan dalam produksi untuk industri.

Abad ke –18 merupakan masa yang memisahkan cara dan gaya kehidupan, pemisahan tersebut diawali di Inggris yang selanjutnya diikuti oleh daerah-daerah lain, tepatnya pada abad ke-18 pada tahun 1769 telah ditemukan mesin Uap sebagai awal dari Revolusi Industri. Sebelum revolusi industri manusia mengerjakan pekerjaannya dengan alat-alat sederhana yang merupakan kepanjangan dari anggota tubuhnya. Setelah revolusi industri semua pekerjaan dikerjakan oleh mesin, yang mampu melakukan pekerjaan dengan lebih efisien dan efektif.

Dampak sosial yang paling menonjol akibat dari revolusi Industri adalah ledakan penduduk. Sehingga pada saat itu dibangun kota-kota industri sarana sirkulasi yang memadai untuk pengangkutan hasil produksi merupakan faktor penting dalam menunjng kegiatan industri. Urbanisasi merupakan dampak yang snagat menonjol dari periode revolusi indutri, akibat adnya jaringan-jaringan jalan baru, umumnya pelaku urbanisasi ini adalah para buruh, mereka meninggali pusat-pusat kota yang padat penduduk. Sehingga banyak melahirkan kawasan slum di pusat kota yang dihuni oleh kelompok buruh.

Perubahan lain yang paling menonjol adalah perubahan sisitem perekonomian, dari sistem perekonomian agraris menjadi sistem ekonomi industrial yang memiliki karakteristik produksi masal, termasuk dalam pengadaan komponen arsitektural. Dibidang arsitektur revolusi industri juga telah mempengaruhi gaya arsitektur yang selama itu dianut berubah, arsitektur menjadi suatu kaya mesin, dengan produksi masal yang mementingkan kecepatan dalam produksi.

Kondisi ini menimbulkan kejenuhan suatu kota maupun karya arsitektural, dimana segala sesuatu halnya menjadi tidak manusiawi yang memperlihatkan penurunan kesehatan, kesenjangan sosial, kenyamanan dari kehidupan buruh pada umumnya. Hal ini telah menimbulkan beberapa reaksi keras karena terhadap ; munculnya perumahan kumuh, perumahan buruh yang mengkhawatirkan, tidak tersedianya taman-taman/ruang terbuka, buruknya jaringan jalan dilingkungan permukiman brurh, jarak antara tempat tinggal dan tempat kerja serta kemiskinan moral para buruh. Kritik-kritik ini telah melahirkan berbagai konsep arsitektur kota yang anti revolusi indutri, dimana konsep-konsep ini pada awalnya masih bersifat utopis.

Konsep yang paling awal diantaranya rencana Robert Owen di inggris, konsep J.S. Buckingham untuk membentuk masyarakat kehidupan sederhana, konsep Sir Titus Salt tentang kota baru, Konsep Tony Garnie tentang kota Indutri, Ebenezer Howard tentang konep kota taman dengan sebuah bukunya yang terkenal “Garden Cities of Tomorrow“. Konsep kota taman Howard merupakan konsep yang mendasari konsep untuk Super Block, yang mulai marak dikembangkan di Indonesia, yaitu di segitiga emas Jakarta, yakni di Kawasan Super Block Sudirman, Taman melati dan Mega Kuningan.

Pengembangan konsep Super block di Indonesia yang baru diawali pada menjelang akhir abad ke-20 dan mulai memasuki abad ke-21. Dalam memasuki abad ke-21 dunia mulai mempersiapkan terhadap perubahan kehidupan baru dengan memulainya suatu perubahan yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi Informasi. Perubahan pesat ini memnandai dimulainya Revolusi Informasi. Sangat jauh perbedaan masa yang dialami Indonesia dengan negara-negara lainnya, sehingga kita mengalami arus perubahan yang sangat singkat, sehingga waktu untuk persiapan dalam menjelang Revolusi Informasi ini lebih kerja keras.

Revolusi Informasi sepertihalnya Revolusi Indutri, akan melahirkan suatu perubahan besar-besaran dibidang sosial, ekonomi dan budaya, dengan ditandainya oleh perubahan pola dan cara hidup manusia karena perkembangan teknologi Informasi yang begitu pesat, telah banyak memberikan kemudahan bagi manusia dalam melakukan aktivitasnya.

Tiga revolusi besar menunjukan bahwa sarana yang paling diperlukan adalah informasi, seprti revolusi Gutenberg peningkatan akses dan penyebara ilmu pengetahuan, revolusi Industri mempercepat pencarian dan pertukaran informasi serta revolusi Informasi secara dramatis merubah status pengetahuan dan status manusia.

Perubahan status manusia memberikan suatu peluang pembaharuan dalam memenuhi kebutuhanya yang akan berubah, sehingga akan terjadi perubahan pola dan cara hidup manusia, perubahan ini akan mempengaruhi bentuk aktivitas manusia, perubahan aktivitas akan mempengaruhi perubahan kebutuhan manusia terhadap ruang dan pada akhirnya sistem fungsi akan berubah.

Perubahan sistem fungsi akan diikuti oleh perubahan sistem masa dan ruang, sistem sirkulasi dan sistem pendukung sarana dan prasarana suatu fungsi. Hal ini yang akan mendasari perubahan-perubahan dalam konsep arsitektur dimasa depan.

Dalam menghadapi perubahan-perubahan konsep arsitektur yang cenderung menggelobal, sejauhmana arsitektur Indonesia mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan ini, perubahan seperti apa yang akan terjadi pada arsitektur Indonesia mengingat situasi dan kondisi bangsa Indonesia saat ini dan persiapan apa yang diperlukan oleh arsitektur Indonesia. Untuk selanjutnya diharapkan tulisan ini akan mampu mengupas kemungkinan tersebut. Terdapat kecenderungan kesejalanan antara konsep-konsep yang telah dikembangkan di beberapa negara maju dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat tradisional Indonesia. Seperti halnya konsep super block yang di pelopori oleh Ebenezer Howard dengan beberapa nilai tradisional yang terekspresikan dalam wujud tatanan masa dan ruang serta nilai-nilai yang dianutnya. Pendekatan telaah ini juga mencoba menggali dari nilai-nilai tradisional arsitektur Indonesia.

 

Detail tulisan konstak kami ……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: