Socio-spatial Approach,

dalam penyediaan perumahan di Indonesia

oleh : Arief Sabaruddin

Pendekatan sebuah perencanaan melalui pendekatan socio-spatial, merupakan konsekwensi dari perubahan paradigma yang dimulai pada akhir tahun 1960-an, prioritas saat itu adalah berada diatara sosiologis dan geograpih, yang dikenal dengan “human Ecology“. Pendekatan ini merupakan sebuah jawaban dari berbagai konflik perkotaan di era 60-an dan sebagai dampak dari periode industrialisasi yang masih berlangsung sampai saat ini, yang membawa kehidupan global pada system kapitalis.

Menurut Gottdiener yang memberikan konsep kunci dari pembangunan kota, menyatakan bahwa “All social activities are also about space. Space is integral factor in everything we do. Understanding this idea means that, when we explore built environment, we must pay as much attentions to the way space helps define our behavior as other variables of a social or interctive kind. Attention to the spatial aspects of humam life means that design and architecture all play an important role in the way people interact.”, tata ruang lingkungan memiliki kandungan simbol-simbol dan tanda-tanda yang merepresentasikan pikiran-pikiran masyarakat. Ruang memiliki makna dari kehidupan dan penghidupan manusianya merupakan hal yang sangat penting dalam uraiannya Gottdiener.

Pedekatan “socio-spatial” diperkenalkan pada tahun 1990-an (Gottdiener dan Hutchison 2000), konsep kunci dari pada paradigma baru dalam penanganan perkotaan adalah bentuk ruang permukiman kota yang dikaitkan dengan kelembagaan perekonomian masyarakat kotanya. Namun bukan berarti pertumbuhan sebuah permukiman kota ditentukan hanya oleh pertumbuhan ekonomi. Bahwa pola ruang kota adalah ruang dari organisasi sosial yang berhubungan dengan aspek-aspek dari budaya, politik, sosial dan ekonomi, khususnya cara berinteraksi antara organisasi kemasyarakatan.

Socio spatial lebih mengkritisi secara tajam sebuah prespektif kapitalisme yang memiliki prespektif pengembangan tata guna lahan lebih banyak diintervensi oleh pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya yang mengedepankan kebijakan investasi ekonomi dan eksploitasi sumber daya, seperti kita ketahui, hal ini pada era Orde Baru banyak lebih dikenal dengan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan tanpa mempertimbangkan kehidupan sosial masyarakat, sehingga pada saat sektor ekonomi tersebut tumbuh tidak diimbangi dengan pertumbuhan masyarakatnya. Sehingga kita tidak perlu pempertanyakan lagi mengapa RULI (rumah liar) tumbuh sangat pesat di Batam, hal ini merupakan salah satu contoh produk kebijakan ekonomi pada era Orde Baru. RULI merupakan sebagai sebuah hasil dari tata ruang perkotaan merupakan sebuah produk diskriminatif yang dibentuk oleh system kapitalis.

Berdasarkan pendekatan socio spacial pola pembentukan kota lebih ditunjang oleh pola sosial masyarakat yang membentuk kehidupan kota, bukan merupakan sebuah produk dari kekuatan-kekuatan tertentu atau badan-badan usaha yang memiliki kepentingan individu maupun kelompok sosial tertentu secara nyata, yang dituangkan dalam membangun sebuah sistem kehidupan yang dibentuk oleh kepentingan tertentu tadi dan kota menjadi bagian dari konsumsi bagi masyarakatnya. Hal ini merupakan sebuah produk dari sistem kapitalis industri, dimana masyarakat dibawa dalam pemikiran konsumtif. Konsumtifisme saat ini menjadi perhatian khusus setelah mekanisme industri terkendali, baiik yang menyangkut kualitas, ketepatan, serta tenaga kerjanya, perhatian para kapitalis bergeser pada konsumen, bagaimana memelihara konsumen.

Dalam lingkungan perkotaan yang merupakan sebuah produk kapitalis banyak menumbuhkan permasalahan ketidak-adilan hak masyarakat dan distribusi kesejahteraan masyarakat tidak seimbang. Demikian juga seperti pengamatan dari Friedrich Engels (1973), menyatakan bahwa kota-kota saat ini memperlihatkan gap yang sangat tinggi antara kaya dan miskin, walaupun beberapa pendapat berusaha melakukan pembelaan, dengan menyatakan bahwa kelompok masyarakat yang termarjinalkan tersebut merupakan sebuah konsekwensi dari ketidak berdayaan seseorang atau masyarakat tersebut terhadap perubahan dan keengganannya ditentukan oleh harga dirinya dan bekerja-keras, hal tersebut sudah menjadi bagian pemikiran yang melekat pada pola kapitalisme.

Telaah yang dapat ditarik dalam pendekatan arsitektural, tidak jauh dari pendekatan Gottiener dalam pendekatan perkotaan, bahwa perencanaan sebuah bangunan arsitektural harus mempertimbangkan dimensi sosial, dimana salah satu unsur dalam dimensi sosial tersebut adalah perilaku pengguna, baik pengguna langsung maupun penggguna tidak langsung. Bahwa sebuah objek arsitektur harus dapat merepresentasikan penggunannya bukan arsitekya. Estetika tumbuh dari keharmonisan antara manusia dalam berperilaku sebagai pengguna dengan perwujudan fisik masa dan ruang, sehingga perwujudan fisik dapat membangun manusia (pengguna bangunan) tahap demi tahap mengalami peningkatan kualitas kehidupan dan penghidupannya.

Aspek-aspek sosial yang memiliki peran dalam menumbuhkan kehidupan dan penghidupan manusianya bukan hanya sekedar menampung fungsi-fungsi ruang dan bangunan, akan tetapi bagaiaman perilaku manusia dalam menjalankan aktifitas yang ditampung dalam fungsi bangunan tersebut dapat berlangsung, dan dapat meningkatkan kualitas manusia pada saat menjalankan fungsinya tersebut, jagi pendekatan dimensi sosial dalam arsitektur memiiki peran yang jauh lebih dalam dari hanya sekedar kajian fungsi atau program funsional dalam arsitektur.

@rs.prod 2008

Daftar Bacaan

M Gottdiener & Budd Leslie, 2005, Key Concepts in URBAN STUDIES, Sage Publications, London

Bardo J.W & Hartman J.J, 1982, URBAN SOCIOLOGY, a systematic Introduction, F.E. Peacock Publishers, Inc. USA .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: