Nilai Simbol dalam Arsitektur

Oleh : ARIEF Sabaruddin

Simbol berasal dari kata Yunani, yaitu “symbollein” yang berarti mencocokkan. Kata-kata simbol dalam media kita akhir-akhir ini sering diaungkapkan, seperti “penyerahan hadiah secara simbolis kepada para pemenang dalam suatu kompetisi…..”. Atau dalam kata lain kita juga sering mendengar ungkapan “Amin Rais merupakan simbol dari reformasi“, atau “uban yang tumbuh di kepala kita dianggap sebagai simbol kedewasaan atau bahkan kemapanan“. Lantas apakah simbol yang akan kita bahas dalam konteks arsitektural sama dengan simbol-simbol yang disampaikan tadi?, menjadi sebuah pertanyaan besar untuk mampu menjawab simbol dalam arsitektur. Sampai saat ini simbol masih memiliki arti sangat penting bagi kehidupan manusia, simbol marupakan salah satu alat dalam komunikasi, dan komunikasi merupakan salah satu syarat dalam interaksi, interaksi adalah bagian utama dari proses sosial dalam masyarakat.

Untuk mulai memahami pengertian dari simbol, kita perlu mengupas beberapa pendapat ahli dalam mendefinisikan simbol. Salah satu definisi symbolism disampaikan oleh A.N. Whitehead dalam bukunya “Symbolism”, sebagai berikut “pikiran manusia berfungis secara simbolis manakala beberapa komponen pengalamannya menggugah kesadaran, kepercayaan, perasaan, dan gambaran mengenai komponen komponen lain dari pengalamannya. Perangkat komponen yang awal adalah simbol dan perangkat komponen yang selanjutnya membentuk/memberikan makna dari simbol. Keberfungsian organis yang menyebabkan adanya peralihan dari simbol kepada makna itu dinyatakan sebagai referensi”. Makna merupakan pesan yang akan disampaikan dalam setiap simbol, dengan demikian terdapat unsur persepsi manusia terhadap sesuatu yang bersifat benda maupun bukan kebendaan.

Deskripsi Simbol sementara dapat disimpulkan sebagai sebuah kata atau benda yang mewakili atau mengingatkan pada suatu entitas yang lebih besar. Kata yang terdiri dari beberapa untaian hurup akan memberikan makna, seperti kata “MAKAN” dan “MAKNA“, kedua kata tersebut merupakan komposisi dari lima buah hurup yang sama, namun dikarenakan susunan hurup-hurup tersebut berbeda, maka kedua susunan tersebut memberikan makna yang berbeda, meskipun perbedaan susunannya hanya pada hurup terakhir antara hurup A dan N. Demikian juga makna dapat dihadirkan oleh tanda, dalam tata bahasa kita kenal adanya tanda dalam sebuah kalimat, seperti tanda tanya dan tanda seru, kedua tanda tersebut dapat memberikan makna yang berbeda apabila ditempatkan pada kata atau kalimat yang sama, sebagai contoh : “Makan ?” dan “Makan !” pada kata makan dengan tanda tanya mengandung makna apakah anda sedang makan, sedangkan pada makan dengan kata seru, lebih menunjukan kalimat perintah untuk melakukan pekerjaan makan. Selanjutnya bila kata MAKAN tadi kita kaitkan dengan benda, maka akan memberikan makna yang berbeda, seperti suatu benda akan dimaknai MAKAN oleh orang Jawa Barat manaka kala dalam sebuah piring terdapat nasi dengan lauk pauknya yang didominasi dengan daun-daun segar, namun makna makan oleh suku yang tinggal di Wamena akan diwujudkan dalam bentuk Ubi Bakar pada genggaman tangannya.

Dengan demikian setiap benda atau susunan benda, setiap kata dan kalimat dapat memberikan makna kapada setiap manusia, namun apakah setiap manusia dapat menangkap setiap makna dari sebuah atau susunan kata atau benda dengan makna yang sama ?. seperti pendapat Whitehead, bahwa dalam pemaknaan tersebut ada unsur experience component, dan setiap suku bangsa, setiap masyarakat akan memilki pengalaman yang berbeda-beda. Pada uraian selanjutnya unsur-unsur simbol akan dibahas pada konteks tradisional, arinya simbol dilihat dari pemahaman universal, belum mengarah pada arsitektural, melalui nilai-nilai universal dari simbol diharapkan dapat ditarik benang merahnya untuk mendapatkan nilai-nilai simbol yang menjadi landasan dalam dunia arsitektur. Bagaimana simbol tersebut dapat digunakan dan terjadi pada konteks keilmuan arsitektural. Secara universal unsur simbol terdiri dari lima unsur utama, yaitu: Tanah, Air, Api, Udara, dan Tubuh. Empat unsur tersebut dikelompok menjadi dua, yaitu unsur dinamis dan unsur statis. Tanah, air, udara, dan api masuk kedalam kelompok statis, karena ketiga unsur tersebut sifatnya tidak bertambah ataupun berkurang, akan tetapi tersimpan dalam wujud yang berubah-ubah. Sebagai contoh unsur air dapat berwujud cair, berwujud uap, atau berwujud padat (es), dan mekanisme siklus hidrologi merupakan alat dalam perubahan wujud dari air tersebut, demikian juga unsur api tersimpan dalam energi, sebagai wujud dari hukum kekekalan energi, yang sewaktu-waktu dia dapat membesar ataupun mengecil, bahkan tidak nampak. Tubuh dikelompokkan sebagai unsur yang dinamis, karena sifatnya yang selalu diperbaharui, sebagai contoh tanaman, manusia, hewan, dan mahluk hidup lainnya senantiasa selalu berganti, berbeda sekali dengan tiga unsur yang tadi. 

Melihat pada posisinya maka unsur tubuh dapat dipengaruhi atau mempengaruhi ketiga unsur lainnya, manakala kita membuka kembali lembar Theologi dalam Arsitektur di atas, maka ada perbedaan yang mencolok antara tiga unsur api, air, udara dan tanah, tiga unsur tersebut tidak memiliki insting maupun akal, sedangkan pada unsur tubuh memiliki insting dan akal, namun setiap mahluk berbeda tingkat kemampuan insting dan akalnya. Akal sempurna diberikan kepada manusia sedangkan mahluk lainnya umumnya hanya memiliki insting, walaupun beberapa penelitian tentang Simpanse yang masih memiliki tingkat akal yang paling tinggi dari seluruh hewan, manunjukkan bahwa hewan ini dapat mengembangkan peralatan sederhana untuk kehidupannya, simpanse, sebagai contoh mampu menggunakan batu untuk memecahkan makanan. Sedangkan yang lainnya lebih banyak menggunakan insting, seperti kita lihat bagaimana tanaman pemakan serangga menangkap serangga, menggunakan insting yang ditanamkan dalam mekanisme tubuh, dimana terdapat serabut-serabut halus dengan menebar bau tertentu untuk memancing serangga mendekati, manakala serabut halus tersebut tersentuh oleh tubuh serangga, maka serabut tersebut memberikan sinyal dan menggerakkan kelopak daunnya untuk menjepit serangga dan menyerap sari tubuh serangga sebagai bahan makanan dari tanaman tersebut. Jadi dalam proses kejadian dalam contoh tersebut merupakan tanda-tanda dari adanya interaksi dalam sistem kehidupan ini. Unsur interaksi demikian sebagai suatu proses pengiriman makna dan merupakan dari simbol-simbol yang harus direspon oleh elemen lain. Sebagai gambaran pada tanaman pemakan serangga tadi, kita melihat bahwa pergerakan serabut-serabut halus dari tanaman saat digerakkan dan gerakan tersebut merupakan simbol. Simbol dalam gerakan serabut tersebut memberikan makna, dan makna tersebut dikirimkan kepada kelopak bunga untuk mengerakkan tubuhnya dan menutup, setelah tertutup makna selanjutnya dikirimkan untuk segera menghisap sari pati dari serangga tadi.

Simbolisasi merupakan sebuah proses dari interaksi antara dua atau lebih unsur atau sub unsur dalam sistem kehidupan, dan interaksi merupakan bagian dari proses komunikasi, komunikasi tidak mungkin terjadi manakala tidak terjadi interaksi, namun dari sebuah sebuah interaksi belum dapat dipastikan terjadi komunikasi. Komunikasi merupakan unsur utama dalam sistem sosial, manusia tidak mungkin dapat hidup sendiri, manusia memerlukan mahluk hidup lainnya termasuk dengan manusia sendiri. Jadi proses simbolisasi merupakan suatu hasil dari konsekwensi sosial mansyarakat.

Proses simbolisasi terjadi manakala makna yang terkandung dalam simbol tersebut diterima oleh tubuh dengan nilai makna yang sama, dan setiap tubuh dapat melakukan pengembangan dari simbol tadi, yang mengakibatkan simbol-simbol semakin hari semakin berkembang.

Tanah sebagai simbol, Secara universal simbolisasi banyak dikaitkan dengan unsur tanah, air, udara, dan api. Kekuatan tanah sebagai simbol dapat dirasakan sampai saat ini, unsur tanah lebih diperkuat oleh teritorialisme sebagai batas dari kekuasaan dan kepemilikan. Pada beberapa masyarakat pedalaman atau daerah-daerah yang belum terlalu berkembang, tanah yang masih berbentuk hutan belantara atau pun padang rumput banyak yang dikuasai sebagai tanah adat, meskipun sebagian dari masyarakat tersebut belum dapat dieksploitasi tetap dipertahankan. Sebagai contoh, pada saat penulis menangani perumahan bagi pengungsi eks masyarakat Timor Timur pasca jajak pendapat, masalah tanah adalah yang paling kompleks, sekalipun tanah yang kita hadapi adalah tanah yang hanya ditumbuhi oleh padang rumput yang gersang, masyarakat tidak dengan mudah melepas status penguasaan tanahnya. Tanah bagi masyarakat tertentu menjadikan simbol kelompoknya, manakala tanah tersebut dikuasai oleh masyarakat lain, masyarakat merasa kehilangan kekuatan dari wilayahnya. Pada masyarakat perkotaan, tanah pun memberikan simbol dari status sosial. Pada kasus perkotaan, tanah lebih dilihat dari sudut nilai ekonomis lokasi, manakala seseorang menujukkan penguasaan tanah di daerah Pondok Indah, Cendana, Dago, atau Cipaganti, maka ada satu pemahaman pada setiap individu, pemahan mengenai status sosial dari pemilik. Dalam dunia hewan, bahwa tanah di hutan belantara dikuasai dalam bentuk wilayah-wilayah kelompok binatang. Dalam dunia Hewa tanah juga sebagai simbol dari kekuasaan. Salah satu syarat pembentukan negara adalah wlayah yang dikuasai. Sehingga dengan demikian kita tidak perlu terheran-heran manakala peperangan sering terjadi dibelahan bumi ini, karena berebut wilayah sebagai simbol dari kekuasaan, semakin luas wilayah yang dikuasai maka semangkin besar kekuasaannya. Untuk itu negara- negara yang dianggap Super Power adalah negara dengan luas wilayah yang cukup besar. Batasan wilayah dalam hal ini tidak dalam arti wilayah yang secara resmi diakui oleh konvensi internasional, akan tetapi wilayah penguasaan, seperti kolonialisme. Mungkin saat ini Amerika Serikat adalah negara yang memiliki penguasaan wilayah terluas, hampir seluruh Eropa Barat, wilayah Jazirah Arab, wilayah eks Uni Sovyet, sehingga saat ini muncul kekhawatiran dari Rusia atas pengaruh penguasaan wilayah oleh Amerika Serikat akan berdampak terhadap melemahnya Rusia, fenomena ini dapat dilihat pada perang di Georgia.

Air sebagai simbol, Setelah tanah unsur air pun memberikan simbol-simbol tertentu bagi sebagian masyarakat di dunia ini, dari sisi theologi bila kita amati hampir semua agama menggunakan unsur air sebagai lambang dari kesucian atau pengsucian, pada umat Islam, air digunakan untuk mensucikan sebelum melakukan ibadah solat, pada umat Katolik air juga digunakan untuk sakramen permandian, begitu juga agam-agama lainnya, bahkan tidak hanya dalam kegiatan ritual agama saja, pada kegiatan-kegiatan budaya ataupun kegiatan dalam dunia mistik, seperti perdukunan, unsur air digunakan sebagai alat dalam proses ritualnya. Air memiliki simbol tertentu pada setiap manusia dan seluruh mahluk di muka bumi ini. Dalam dunia sains bahkan air digunakan sebagai indikator adanya kehidupan, para peneliti ruang angkasa dalam penjelajahannya terhadap planet-planet seperti Mars, Merkurius, Venus, dan yang lainnya, yang pertama-tama dicari adalah unsur air, manakala tanda-tanda air ditemukan, maka satu tahap dari tanda-tanda adanya kehidupan telah ditemukan. Dengan demikian air merupakan unsur kedua dari simbol.

Api sebagai simbol, api sebagai unsur energi dan unsur cahaya sudah secara tradisional digunakan sebagai simbol-simbol oleh masyarakat sejak jaman primitive, dalam berbagai kegiatan ritual unsur api digunakan sebagai lambang dari kekuatan di luar kekuatan manusia, bahkan bagi masyarakat penganut agama-agama yang lahir dari langit, api digunakan sebagai lambang Neraka manakala api tersebut kondisinya sulit dikendalikan, unsur api ini lebih berperan sebagai lawan dari air, karena air sifatnya dingin sedangkan api sifatnya panas.

Udara sebagai simbol, keberadaan udara sebagai simbol belum dipersepsikan memiliki kekuatan yang sama dalam kehidupan, walaupun udara dapat memberikan kenyaman, pengaruh udara dalam kehidupan saat ini belum menjadi fokus perhatian, walaupun gejala untuk memperhatikan sudah mulai dirasakan dengan menggejalanya pemanasan global.

Tubuh sebagai simbol, makna tubuh sebagai simbol ini sangat luas, hanya sedikit saja akan disampaikan dalam pembahasan, dikarenakan sangat terbatasnya kampuan penulis berkaitan dengan simbol dalam tubuh. Gambaran awal yang dapat disampaikan adalah mengapa Rasialis tumbuh di muka bumi ini, hal ini disebabkan adanya pemaknaan akan suku bangsa tertentu dari perwujudan fisik tubuh, warna kulit, rambut, mata, dsb. Bangsa Aria merasa bangsa yang paling unggul di dunia ini, sehingga bangsa lain dianggap buka manusia, atau di Amerika Serikat, mengangap masyarakat kulit putih sebagai masyarakat kelas satu, kulit hitam kelas dua dan kelit berwarna sebagai masyarakat kelas tiga. Semua itu hanya didasarkan pada perbedaan warna kulit, warna kulit dalam hal ini menjadi simbol. Sehingga pada saat Barack Obama menjadi kandidat presiden pertama Amerika dari kulit hitam telah menimbulkan suatu pembicaraan di seluruh belahan dunia tidak terbatas di negaranya. Antara pro-kontra dari kelompok-kelompok yang ada di masyarakat. Dalam hal ini warna kulit dijadikan simbol, dan Barack Obama dijadikan simbol dari perjuangan Martin Lhuter dalam memperjuangkan kesamaan hak.

Tubuh sebagai simbol juga sempat diungkap oleh DR. Yuswadi dalam kuliah Sejarah, Teori, dan Kritik Arsitektur, pada tanggal 10 September 2008 “bahwa tubuh masih digunakan sebagai simbol hukuman, manakala seseorang melakukan kejahatan, maka tubuhlah yang menjadi sasaran hukuman, tubuh yang dikurung dalam penjara”, apakah dengan perlakukan tubuh tersebut sudah cukup, karena disamping tubuh sebetulnya ada aspek terpenting yaitu Roh, roh sebagai wujud dari jiwa dapat merasakan sakit walaupun fisiknya tidak teraniaya, sehingga secara universal simbolisasi dalam tubuh ini lebih dilekatkan pada raga bukan pada jiwa. Apakah karena jiwa tersebut berada pada dimensi lain, yaitu dimensi spiritual dan fisik berada pada dimensi material. Pada telaah ini perlu dilihat bahwa simbolisasi merupakan proses yang terjadi antara dimensi material dan spiritual, dan bagaimana keterkaitan antara kedua dimensi tersebut, ini terkait dengan pembahasan sebelumnya tentang Theologi dalam Arsitektur. Karena dengan kacamata theologilah simbolisasi akan sangat terasa dalam dunia spiritual. Melalui tulisan ini penulis memiliki tujuan untuk membawa simbolisasi sebagi ilmu dalam dunia arsitektur melalui cara pandang dari sisi spiritual, agar pemaknaan yang terjadi dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dimana tujuan arsitektur untuk menciptakan kahidupan dan penghidupan manusia yang semakin hari semakin meningkat dapat tercapai. Manakala simbolisasi arsitektur tidak memasuki dunia spiritual maka karya arsitektur tidak mengandung makna yang dapat berpengaruh terhadap kehidupan dan penghidupan manusia, arsitektur hanya sebagai benda seni, indah untuk dipandang namun tidak memiliki jiwa, bahkan arsitektur hanya sebagai benda pajangan saja, hal ini dapat dirasakan pada foto dibawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto 1. Bangunan tempat penjualan piano, apakah ini simbol yang benar ?, simbol tidak harus diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang analogis

Teori Simbolisme

Simbolismen menurut Frederick A. Jules “merupakan teknik perancangan utama yang memberi bentuk dan teknik yang dapat diterapkan pada hal-hal fungsional dan berdasarkan rencana dengan sedikit pertentangan (konflik)”. Selanjutnya dia menyatakan juga fungsi dari simbolisasi adalah “Penggunaannya secara luas karena simbol menghimpun semua bagian dari suatu masalah untuk memperkuat suatu arti dan memberikan keutuhan pada komposisi yang menyeluruh“. Hal yang menjadi sulit adalah bagaimana menuangkan simbol-simbol tersebut agar kita tidak terkecoh oleh perwujudan yang analogis seperti gambar di atas, manakala kita terjebak oleh bentukan analogis, maka akan terjadi pelanggaran sistem bangunan, pelanggaran tersebut akan merusak kaidah-kaidah seperti sistem struktur, sistem utilitas, bahkan sistem ruang, karena fungsi maupun sistem keteknikan tidak dapat mengikuti bentuk bangunan yang sudah given.

Raymond Firth, dia mengungkap simbolisasi dari sudut pandang manusia, Firth menyatakan simbol-simbol yang berkaitan dengan tubuh manusia dan rambut seperti dikuti oleh F.W. Dillistone, “menurut Firth simbol dapat menjadi sarana untuk menegakkan tatanan sosial atau untuk menggugah kepatuhan sosial, selain itu, sebuah simbol kadang-kadang dapat memenuhi suatu fungsi yang bersifat privat dan individual, meskipun sulit mengakuai adanya nilai dalam sebuah simbol yang tidak memiliki acuan kepada pengalaman sosial yang lebih luas“. Firth bahwa simbol mencakup dua entitas substansi, simbolisasi bersifat biner (berpasang-pasangan).

Terdapat perbedaan antara simbolisasi dan tanda-tanda, keduanya memiliki makna, seperti pada bangunan simbol diungkap tidak dalam bentuk analogis, maka bentuk-bentuk tersebut dapat memberikan makna yang beragam, tapi tanda tidak dapat memiliki makna yang beragam, tanda hanya akan memiliki sebuah makna. Perbedaan antara simbol dan tanda teresebut disampaikan oleh E. Turner “Dalam simbol-simbol ada semacam kemiripan (entah berupa metafora atao bersifat metonimia) antara hal yang ditandai dan maknannya, sedangkan tanda-tanda tidak memiliki kemiripan seperti itu …., tanda-tanda hampir selalu ditata dalam sistem-sistem tertutup, sedangkan simbol-simbol, khususnya simbol yang dominan, dari sirinya sendiri bersifat terbuka secara semantik. Makna simbol tidaklah sama sekali tetap, makna-makna baru dapatlah ditambahkan oleh kesepakatan kolektif pada wahan-wahana simbolis yang lama, termasuk juga individu-individu dapat menambahkan makna pribadi pada makna umum sebuah simbol“.

Cassier berpendapat “Manusia hidup dalam alam semesta simbolis. Bahasa, kesenian, dan agama adalah bagian-bagian alam semesta, semuanya itu merupakan berbagi unsur yang membentuk jaring simbolis, jaring kusut berliku-liku mengenai pengalaman manusia….. segenap kemajuan manusia dalam berpikir dan berpengalaman, memperhalus, memperkuat jaring ini …. Dari pada berurusan dengan barang-barang itu sendiri, manusia dapat dikatakan senantiasa berbicara dengan dirinya sendiri. Hal ini telah sedemikian rupa melingkupi dirinya sendiri dengan bentuk bahasa, gambar-gambar seni, simbol-simbol mistis, atau upacara-upacara keagamaan sehingga ia tidak dapat melihat atau mengetahui apa pun kecuali dengan pengantar medium buatan“. Disini terlihat bahwa dunia saat ini dilingkupi oleh jaring-jaring informasi yang telah membentuk simbolis.

Simbolisasi ini telah banyak menimbulkan paradoks dalam kehidupan masyarakat secara umum, maupun dalam perkembangan ilmu arsitektur, namun perlu ditegaskan pemahaman simbolisasi dalam konteks arsitektur khususnya dalam upaya penggalian teori arsitektur untuk perumahan dan permukiman penyusun tidak ingin terjebak dalam paradoks yang terjadi, penelusuran ini akan ditujukan pada simbolisasi yang membawa sebuah makna sebagai alat komunikasi antara wujud arsitektur perumahan untuk disampaikan kepada masyarakat sebagi pengguna maupun penghuni, dan diharapkan terjadi respon positiv dari masyarakat sebagai wujud dari tujuan arsitektur perumahan yaitu pembangunan masyarakat.

 Daftar Pustaka
DR. FX Rudiyanto Subagiyo, DR. Purnama Saluran, DR. Yuswadi Saliya, 10 – 11 September 2008, Kuliah-kuliah Filsafat Arsitektur, Methodologi Arsitektur, serta Sejarah, Teori dan Kritik Arsitektur,

Siao Shen Sien, Avelyn Lip, Sarah R & Lim Y.T, Orientas dan Manfaat Hong Sui, Central Kula Sakti, Jakarta.

F.W. Dillistone, 2002, Daya kekuatan Simbol, The Power of Symbols, Kanisius.

C. Snyder James, J. Catanese Anthony, 1991, Pengantar Arsitektur, Penerbit Erlangga, Jakarta

3 Tanggapan to “Nilai Simbol dalam Arsitektur”

  1. maaf pak, klo boleh mnta info bukux dillistone.. saya cari di toko2 buku blm ktmu jg.lg hunting referensi bwt skripsi ini pak. terima kasih banyak sebelumnya…

  2. OK, Saya ada, baik yang versi inggris-nya maupun yang terjemahan dalam bahan Indonesia.

  3. tambahan informasi, bila perlu anda bisa kontak lewat email saya saja langsung, alamat email saya lihat di halaman utama blog ini. TQ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: