ARSITEKTUR KABEL

PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA BARAT

Oleh : ARIEF Sabaruddin

Peneliti dan Arsitek Perumahan dan Permukiman

(Tulisan Telah diterbitkan pada Jurnal Kopertis Wilayah IV)

pancanitri

Abstraksi

Kebutuhan akan wadah yang mampu menampung suatu kegiatan kesenian daerah, memerlukan suatu suasana yang dapat melarutkan penontonnya pada nilai-nilai dari kesenian yang disajikan, yang diutamakan pada kesenian daerah adalah nilai-nilai mistik lebih mendominasi keberadaannya. Pemilihan lokasi yang tepat akan dapat membantu tercapainya suasana tersebut, selain itu disain bangunanpun harus mendukung agar tercipta suasana yang juga dapat mendukung.

Akar budaya kesenian tradisional khusunya di Jawa Barat, berangkat dari kegiatan-kegiatan upacara adat yang berkaitan dengan perayaan-perayaan seperti upacara pada saat mulai menanam padi atau pada saat panen, dimana pada pelaksanaannya dilakukan tarian-tarian dan bunyi-bunyian yang pada akhirnya tergeser kebiasaan itu menjadi suatu kesenian yang disajikan sebgai alat hiburan.

Melihat pada akar tumbuhnya kesenian tradisional, dalam suatu perencanaan bangunan kesenian tradisional harus mampu menciptakan suasana dialam terbuka agar lebih dapat dinikmati. Sehingga penonton dapat menikmati nilai seni secara utuh. Pemilihan struktur kabel dan tenda merupakan salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan nilai-nilai asli dengan tuntutan perkembangan nilai kesenian daerah. Nilai kesenian daerah pada awalnya sebagai alat upacara adat saat ini bergeser menjadi alat pariwisata daerah yang dijual kepada turis asing maupun domestik.

  1. Latar Belakang
    1. Nilai-nilai Budaya Masyarakat Tradisional

      Budaya dalam masyarakat di Indonesia umumnya sedang mengalami perubahan yang sangat pesat, terutama sekali dengan masuknya budaya barat yang didorong oleh perkembangan teknologi informasi saat ini, dengan hadirnya internet membuat dunia ini menjadi dekat dan tanpa batas. Sisi lain dari dampak perkembagan teknologi ini adalah terkikisnya budaya-budaya yang memiliki nilai luhur bagi bangsa Indonesia yang memberikan ciri dan karakter bangsa. Sangat dikhawatirkan sekali bila nilai-nilai budaya luhur ini harus hilang dari permukaan bumu nusantara.

      Dalam mengantisipasi arus budaya barat yang terus mengkikis kebudayaan kita, maka perlu kiranya kita meningkatkan rasa cinta budaya bangsanya terutama pada generasi muda, penanaman rasa cinta ini adalah dengan memperkenalkan kekayaan budayanya, karena bila tidak pernah mengenal maka tidak akan dapat menyintai.

      Penyediaan sarana dan parasarana informasi kebudayaan perlu ditingkatkan, misalnya dengan membangun bangunan-bangunan kebudayaan, bangunan-bangunan kesenian dan bangunan bangunan lainnya. Untuk menciptakan daya tarik pada generasi muda khusunya maka perlu pendekatan disain bangunan yang mampu menanamkan rasa bangga dan gengsi.

      Perpaduan sistem struktur konvensional dengan sistem struktur tenda merupakan suatu usaha untuk menciptakan daya tarik unik bagi generasi masyarakat terutama generasi muda. Struktur kabel akan memberikan nuansa moder yang seringkali menjadi kebanggaan dan acuan kemodernan seseorang. Sistem struktur konvensional tetap merupakan sistem struktur utama bangunan, karena sistem sturktur ini yang akan mampu menjaga suasana ketradisionalan serta budaya, sehingga akan mampu menjaga nilai-nilai budaya seperti aslinya.

      Sebuah karya arsitektur dengan menerapkan sistem struktur tenda telah diterapkan di salah satu bangunan kesenian, dalam sebuah kompleks Padepokan dengan nama Padepokan Manggala Giri di Lembang Kabupaten Bandung, bangunan ini merupakan milik seorang tokoh masyarakat priangan yang memiliki keinginan kuat untuk mengangkat nilai budaya seni sunda dengan menyediakan fasilitas yang dapat digunakan oleh seniman dan masyarakat yang akan berekreasi. Namun sangat disayangkan bahwa realisasi fisik dari bangunan ini kurang begitu lancar sehingga pelaksanaanya belum dapat diselesaikan, terutama struktur kabelnya yang belum dikerjakan sama sekali.

      Pada uraian selanjutnya akan dikupas mengenai bangunan ini dengan pendekatan dari fungsi bangunan, sebagai wadah yang harus menampung kegiatan berbagai seni tradisional Jawa Barat, dengan target market adalah seluruh lapisan masyarakat baik tua maupun muda. Selain itu juga diharapkan bahwa bangunan ini dapat menampung kegiatan-kegiatan pertemuan yang sifatnya formal. Bahasan prilaku sistem struktur terutama sistem struktur kabel, akan berangkat dari fungsi serta penjelasan prilaku serta konstruksi-konstruksi tertenatu yang cukup berperan dalam struktur.

    2. Jiwa Kesenian Daerah

      Pada awalanya jenis kesenian tradisional muncul dari tata cara atas tradisi dalam upacara adat, seperti pada upacara musim panen atau tanam serta pada upacra-upacara adat lainnya, pada beberapa suku yang ada di Indonesia masih ada yang memegang tadisi ini, bahkan di Jawa Barat sendiri tradisi ini masih sering kali dilakukan.

      Selain itu tidak sedikit pula kesenian tardisional ini yang mengalami kepunahan, kepunahann ini disebabkan oleh :

  • Tidak sesuai dengan zaman, sehingga banyak kesenian tradisional yang yang dahulu digunakan untuk melaksanakan upacara adat saat ini sudah mulai kurang pendukungnya.
  • Belum adnya data tertulis atau dokumentasi dari kesenian tradisional itu sendiri, sehingga banyak karya keseniaan tradsional yang hilang, yang tinggal hanya namanya saja, karena tidak ada dokumen dan catatan tertulis yang bisa dibaca.

Dalam penyelenggaraannya kesenian-kesenian ini, karena sebagai alat dalam melakukan upacara yang berbau religius, dilakukan langsung di ruang terbuka. Pada kegiatan panen atau musim tanam kegiatan upacara dilakukan langsung dilapangan terbuka atau di lahan tempat masyarakt itu mengerjakan pertaniannya.

Pelaksanaan upacara-upacara yang umumnya dilakukan diruang terbuka, juga kegiatan upacara itu dilakukan oleh seluruh masyarakat yang hadir, sehingga antara pembawa acara kesenian dengan pengujung sama-sama melakukan kegiatan, artinya keduanya sama-sama melakukan kegiatan upacara itu, berbeda sekali dengan kesenian-kesenia yang dilakukan oleh kesenian yang berasal dari barat, ada pemisah antara tokoh yang melakukan dan pengunjung, sifatnya lebih satu arah, sedangkan pada kesenian tradisional di Indonesia khusunya di Jawa Barat tidak terjadi satu arah akan tetapi membaur.

Utnuk menampung jiwa kesenian tradisional seperti ini, tentunya pemilihan ruang terbuka sangat tepat, sehingga peran bangunan tidak lagi menjadi faktor utama, bentukan disain seperti ini dapat direncanakan suatu bangunan kesenian terbuka. Tentunya dalam menghadapi cuaca, kondisi ruang terbuka ini sering kali kurang menguntungkan, terutama sekali bila kegiatan kesenian ini akan dikomersialkan, ditambah lagi bila sasaran tareget marketnya adalah golongan masyarakat muda.

Struktur penutup tenda dengan pengkaku kabel merupakan suatu solusi tepat dalam pengadaan Gedung kesenian yang bercitrakan tradisional. Struktur kabel selain dari sisi filosofinya merupakan struktur bangunan yang tergolong primitif, karena masyarakat primitif banyak yang mengandalkan bangunannya dengan menggunakan sistem struktur tenda dengan bahan dari kulit binatang. Bahkan sistem struktur kabel ini merupakan pengembangan dari sistem struktur masyarakat primitif yang telah dikembangkan.

  1. Jenis Kesenian Tradisional

    Kesenian tradisional secara umum terdiri dari seni tari, seni musik, seni bela diri serta seni drama, di Jawa Barat jeis-jenis seni ini dimiliki. Jenis kesenian karawitan, dalam bukunya Atik Supandi membagi karawitan menjadi :

  • Karawitan sekar, yaitu seni suara yang diungkapkan atau dihidangkan dengan suara mulut, baik oleh juru sekar/ sinden atau oleh wirah – suara. Karawitan sekar ini terbagi dalam dua jenis, mamos dan kakawih, mamaos adalah karawitan vokal yang berirama bebas sperti pupuh, papantun dsb. Kawih adalah karawitan sekar yang terikat
  • Karawitan gending, adalah jenis seni suara yang diasjikan dengan menggunkan waditra, karawitan ini dapat digolongkan lagi menjadi ; digesek, dipetik, digoyang, ditiup dan dipukul.
  • Karawitan campuran, yaitu seni suara campuran antara sekar dengan gending, dalam cara hiangknya dapat digolongkan menjdai; sekar dan sekar-gending

Dalam seni pertunjukan atau pagelaran, karawitan selain berfungsi sebagi pengiring tari, daram dan pedalangan, karawitan juga dapat berdiri sendiri. Karawitan itu dapat diperytunjukan secara utuh dan karawitan itu dapat berfungsi sebagi pengisi suasana..

  1. Perancangan Arsitektural
    1. Program Fungsional

      Melihat pada kebutuhan fungsi diatas maka bangunan ini harus mampu mewadahi kegiatan-kegiatan karawitan, baik karawitan sekar, karawitan gending mapun karawitan campuran. Dengan pemakai bangunan adalah seniman serta pengunjung. Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa sifat seni karawitan ini adalah dinamis dalam arti terjadinya proses timbal balik antara seniman dengan pengunjung, disini pengunjung juga perperan serta aktif dalam pertunjukan (terlihat pada kesenian jaipong, diman pengunjung dapat ikut berjaipong), maka stage tidak perlu terpusat, dalam disian bangunan ini stage dibuat dua buah yaitu dibelakang serta di pusat, penempatan stage di belakang lebih berfungsi untuk menepatkan pengiring atau pengunjung ikut serta dalam kegiatan seni. Sednag bagian tengah untuk penekanan fungsi pertunjukan, walaupun tidak menutup kemungkinan pengunjung turun ke arena bagian tengah.

      Selain fungsi utama perlu juga disiapkan fungsi penunjang, sperti raung persiapan pria dan wanita, gudang alat serta toilet umum dan ruang penerima/ resepsionis. Seluruh bangunan memberikan kesan terbuka, sesuai dengan fungsinya untuk memberikan kesan bangunan menerima, ekspresi ini terlihat pada sekeliling ruang pertunjukan didingnya dibuat transparan, yaitu dari bahan kaca, untuk menghindari pengunjung masuk langsung, maka disekelilingnya dibatasi dengan air (kolam yang menyambung dengan latar belakang panggung). Begitu juga pada bagian depan lobby berhubungan langsung dengan ruang luar, dan lobby ini dapat juga difungsikan sebagai panggung terbuka yang menghadap kalapangan parkir (alun-alun) yang berada didepanya, hal ini dimungkinkan bila akan diadakan pertunjukan yang perlu dihadiri oleh masa yang cukup banyak. Pertujukan tebuka ini dapat dilihat dari berbagai susdut pada tapak kompleks, seperyi dari lapangan berkuda, dari lapangan tenis, maupun dari kolam renang dan lapangan parkir sendiri.

    2. Masa dan Ruang

      Secara keseluruhan masa bangunan terdiri dari tiga blok masa, yaitu masa ruang pertunjukan, masa ruang penunjang termasuk stage serta masa penerima atau entrance bangunan. Pada masa bangunan penerima serta masa bangunan penunjang jarak ketinggian plafond berkisar 3.20 dengan plafond ekspose, sehingga rangka kuda-kuda terlihat dan sebagai komponen estetika, keadaan ini memberikan susana anggun dan monumental bagi bangunannya.


       Skematik Disain Bangunan Kesenian Karawitan Padepokan Manggala Giri
      Dari segi masa bangunan secara utuh lebih dikuasai oleh bentuk atap yang cukup besar, sehingga bangunan menjadi sangat menonjol sekali, penonjolan bangunan ini diperkuat lagi dengan sudut kemiringan atap yang pada bagian atap puncak diberikan sudut 600 dan bagian bawah dengan susun dua diberi kemiringan atap 300.

      Kemiringan atap ini selain bertujuan untuk memberikan kesan monumental, juga mengacu pada bentuk-bentuk bangunan tradsisional khusunya di Jawa Barat, yang bentuk dasar atapnya memiliki kemiringan ang cukup curam. bahan penutup atap bangunan tradisional umumnya dengan bahan ijuk, yang memiliki tekstru kasar dan berwarna gelap. Sehingga pemilihan bahan genting masih dimungkinkan dan diberi warna gelap.

      Bentuk lahan yang berkontur dengan kemiringan yang rata-rata 300 merupakan potensi dalam penempatan ruang-ruang, kontur digunakan juga untuk penyusunan lantai tribun, ruang penunjang dibuat lantai plit, serta potensi pemandangan kearah bandung dimanfaatkan sebagai latar belakang dari stage.

    3. Typologi Bangunan

      Typologi bangunan mengacu pada bangunan tradisional Jawa Barat dengan penekanan pada bentuk atap, yaitu bentuk atap julang ngapak yang dimodifikasi dengan atap jurai. Hal ini sebagai tuntutan fungsi yang harus memiliki empat muka bangunan, dengan satu orientasi.

  2. Perancangan Struktural

    Sistem struktur utama adalah sistem struktur konvensional dengan menggunakan konstruksi kuda-kuda dari kayu, sedangkan kolom balok menggunkan beton bertulang, podasi sumurang dengan diameter berkisar antara 1m samapi dengan 1,5m . pada masa bangunan pertunjukan untuk melindung penunjung dari cuaca terutama hujan, maka dipilih sistem struktur tenda, yang dapat di buka tutup. Pemilihan bahan tenda diutamakan bahan yang transparant dengan tujuan agar pengunjung tetap dapat merasakan suasana alam terbuka, sesuai dengan tuntutan fungsi.

    Dalam uraian sistem struktur ini yang akan dibahas lebih lanjut adalah sistem struktur kabel pada bagian ruang pertunjukan, karena memiliki keunikan tersendiri sedangkan sistem struktur konvensional hanya terungkap sedikit sejauh untuk memperjelas sistem struktur secara keseluruhan.

    Terdapat beberapa jenis struktur kabel banyak digunakan diantaranya adalah ;

    1. Jenis struktur kabel delan peletakan kabel vertikal, gaya tarik yang terjadi yang disebabkan gaya luar dan berat sendiri, garis kerja gaya-gaya berhinpit dengan kabelnya.
    2. Jenis struktru kabel dengan peletakan kabelnya horizontal atau miring, diman garis kerja gaya-gayanya tidak berhimpit dengan kabelnya.
  1. Perilaku Sistem Struktur Tenda

    Prilaku dari atap tenda pada prinsipnya tidak dapat berdiri begitu saja, karena tenda

      sifatnya sangat elastis , tenda perlu ditunjang oleh tiang atau jaringan kabel sebagai pengkaku, sehingga tenda menjadi lebih kaku dan memiliki bentuk pada gambar diatas ditujukan berbagai perlakuan terhadap tenda sehingga memberikan berbagai bentuk.

  2. Sistem Konstruksi

  3. Jenis konstruksi dibagi menjadi dua sistem, yaitu ;

    1. sistem single layer

      yaitu sistem struktur kabel yang terdiri dari sati lapis kabel, yang direntangkan pada rangka utama cntih sistem struktur ini seperti pada raket badminton, atau juga sistem struktur satu lapis dengan penunjang yang berupa kolom, dimana kabel digantung pada kolom-kolom penunjangnya, kabel bisa digantung langsung pada kolom dengan memeringkan kolomnya atau diberi angker pada landasan diatas tanah.

      Rancangan bangunan kesenian Padepokan Manggala Giri ini didisain dengan menggunkan sistem struktur kabel satu lapis dengan penunjang kolom pada didnding pemsih ruangan antara ruang luar dengan ruang dalam dan angker diatas permukaan tanah. Pada tumpuan kepala kolom diberikan rol untuk memberi kesempatan pergerakan kabel akibat dari defleksi, kolom disini menerima beban diagonal akibat tekanan dari kabel dengan beban dinamis, karena gaya-gaya yang terjadi berubah-ubah yang disebabkan dari tekanan angin yang tertampung oleh bidang tenda, gaya angin sendiri yang terjadi berubah-ubah, sehingga menimbulkan efek getar pada struktur.

      Antara kebel-kebel utama dipasng kebal anak, yang sifatnya lebih mengkakukan struktur kabelnya. Konstruksi kuda-kuda pada bagian tumpuan dibuat konstruksi khusus, dengan membuat distribusi beban pada tiga arah dua batang tekan, yaitu pada balok kuda-kuda dan satu batang tarik pada ikatan angin.


       Peran ikat angin pada konstruksi kuda-kuda bangunan ini sangat besar karena selain beban-beban horizontal yang biasa dipikulnya akan ditambah dengan beban tetap dan beban dinamis yang ditimbulkan akibat keberadaan atap kabel.

    2. sistem double layer

      sistem struktur kabel dengan double layar yaitu penempatan kabel utama pada dua bidang/ lapis, biasanya lapis atas dan lapis bawah, diantara kedua lapisan tersebut dipasang batang-batang pengkaku, batang-batang tersebut dapat berupa batang tarik maupun batang tekan

       

      Konstruksi

    1. Metode Pelaksanaan

      Tahapan pelaksanaan pembangunan gedung ini dimulai dengan pembangunan fisik struktur utama dengan mempersiapan/ menyediakan asesoris untuk konstruksi kabel, sedangkan konstruksi kabelnya sendiri dilaksanakan setelah struktur utama dengan metode konvensional diselesaikan. Dalam pelaksanaannya sendiri pembangunan dikerjakan oleh dua pelaksana, pelaksanaan konvensional dilakukan oleh pelaksana lokal/ penduduk setempat karena tidak ada yang khusus dengan arahan seorang Site Manager yang cukup profesional. Konstruksi kabel di kerjakan oleh kontraktor yang sudah cukup berpengalaman (belum sempat terealisasikan).

    2. Waktu Pelaksanaan

      Waktu pelaksanaan yang diperlukan untuk menyelesaikan pembangunan gedung kesenian ini adalah 120 hari kalender.

  1. Kesimpulan

Sistem struktur modern seperti kabel dapat dikembangkan dan diterapkan pada bangunan-bangunan yang bernuansakan tradisional dengan pemilihan bahan-bahan membran yang bertektur dan warna kelabu atau transparan. Sistem struktur kabel yang memberikan karakter lentur memiliki potensi dalam penerapannya pada bangunan-bangunan dengan fungsi rekreasi.

Dari segi struktur sistem ini kurang stabil sehingga mudah berubah bentuk bila terkenan beban tambahan, fungsi kabel disini adalah untuk mendapatkan kestabilan pada membrannya. selain itu sistem struktur ini lebih ringan dan tipis. Bahan penutup atap/ membrannya adalah synthetic fibres.

Yang masih menjadi kendala dalam penerapan sisten struktur kabel ini adalah masalah biaya yang masih cukup diangga tinggi serta kemampuan tenaga pelaksana masih sedikit sekali yang mampu menguasai atau berpengalaman dalam menangani konstruksi dengan sistem struktur ini. Hal ini merupakan tantangan baik bagi para arsitek maupun bagi para pelaksana di Indonesia baik dalam meningkatkan kemapuan keprofesiaannya maupun meningkatkan teknologi struktur dan konstruksi.

  1. Daftar Pustaka

    Lin T.Y. and Stotesbury S.D., Structural Concepts and Systems for Architects and Engineers,
    John Wiley and Sons, New York 1981.

    Sabaruddi ARIEF, Kumpulan Disain dan Karya tahun 1994, Bandung 1994

    Sabaruddin ARIEF, Pusat Penelitian dan Pengembangan Karawitan Jawa Barat, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung 1989.

    Schueller Wolfgang., Horizontal-Span Building Structures, Jhon Wiley and Sons, New York, 1983.

    Soepandi Atik, Skar., dan Enoch Atmadibrata, Khasanah Kesenian Jawa Barat, Pelita Masa, Bandung 1983.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: