Antara Karya Seni dan Arsitektur

Oleh : Arief Sabaruddin

Peneliti Madya Bidang Perumahan dan Permukiman

Perkembangan ilmu arsitektur dan seni yang dipadukan telah memberikan pengembangan kreatifitas bagi para arsitek maupun para seniman, keduanya seolah menjadi satu produk.

Selama ini antara seni senantiasa memiliki perbedaan yang sangat mendasar, dimana karya seni merupakan sebuah objek yang tidak memiliki fungsi, sedangan arsitektur merupakan disiplin ilmu yang memiliki banyak aturan. Arsitektur selalu memiliki koteks fungsi dan tempat. Uraian ini mengakat isu Architectural Design, yang mengeksplor keterkaitan dan bagaimana perkembangan sejarah pembauran antara karya seni dengan karya arsitektur, serta menguraikan batas-batas perbedaan tersebut.

 Fenomenannya memperlihatkan bahwa pada jenis karya yang saling dipengaruhi dan mempengaruhi pengembangan ilmu keduanya, yaitu disiplin ilmu seni dan arsitektur, sering  menimbulkan ambiguitas, sulit mencari batas, seperti apakah karya arsitek tersebut, yang merupakan objek arsitektural, karena beberapa kaidah disain arsitektur tidak diacu dan mengacu pada karya seni, begitu juga sebaliknya.

Arsitektur dan seni memiliki landasan yang sama, hal ini dapat diperlihatkan pada saat Richard Serra mengembangan sebuah disain dengan dasar bentuk permukaan oktagonal pada sebuah gereja di Burgundy, karyanya tersebut merupakan batas antara objek seni dan arsitektur, dapat dikatakan sebagai pembauran antara pendekatan arsitektur melalui seni. Keterkaitan secara dinamis antara seni dan arsitektur, antara seniman dan arsitek, sebagaimana penggunaan warna dan bentuk scupture, serta bagaimana sikap seni dan arsitektur.

Bagaimana integrasi yang terjadi antara seni menuju art-noevau ke de stijl dan Bauhaus, keseluruhannya memperlihatkan keganjilan dan ketidak seimbangan pada aturan antara seni dan arsitektur. Yang dinyatakan “In architecture there are two essential conditions of truth: the truth with respect to programme, and that with respect to construction methodes. Truth with respect to the programme means fulfilling exactly ang with simplicity the conditons imposed by needs; truth with respect to constructions methods implies usage of materials enhacing original qualities and properties ….. purely artistic questions tied to symmetry and apparent from are only secondary conditions when confronted with our dominant principles.” Eugene Emmanuel Viollet-le-Duc Entretiens sur l’architecture (1863-72) Eugene Emmanuel Viollet-le-Duc, adaah seorang arsitek dan penulis dari Perancis memberikan sebuah petujuk menuju arsitektur masa depan melalui Art Nouveau, bahan bangunan baru sebagai petujuk kehadirannya, bahan bangunan yang telah mempengaruhi struktur bangunan yang lebih ringan, kehampaan, ketransparanan, serta perencanan denah lantai yang berliku-liku.

Simulasi disain yang berkualitas telah dibuat oleh Horta dan Van de Velde, diantaranya adalah Art Nouveau dengan segera menyebar luas, yang telah dimulai dan didahului melalui pewarisan semangat dari perubahan seni dan kerajinan, melalui penghormatan pada keahlian pekerjaan seni dan detail-detail rancangan yang baik. Art Nouveau menyalahi prinsip-prinsip melalui pengurangan isi, yaitu melalui sebuah intepretasi perilaku. Hal ini ditegaskan oleh Bruno Zevi bahwa pekerjaan seni pendirian dari budaya baru disampaikan di atas segalanya yang mempercayai pada perbaikan seni dan budaya, untuk menghancurkan rintangan yang dapat menghalangi proses pertumbuhan, pada kondisi yang serupa sebagai seni hias melalui tekanan bentuk-bentuk alamiah, mereka telah menghilangkan apa yang menghalangi ekspresi artistik.

Bentuk manisfestasi pertama dari De Stijl (1981) de Stijl atau dalam Bahasa Inggris the style adalah gerakan seni di sekitar tahun 1920-an. Konsep ini berkembang seiring terjadinya perang dunia pertama yang berlarut-larut. Komunitas seni de Stijl kemudian berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru di dalam seni. Konsep ini diwujudkan dalam pemikiran utopia. Mereka mewujudkan abstraksi dan ke-universal-an dengan mengurangi campur tangan bentuk dan kekayaan warna semaksimal mungkin.

Komposisi visual disederhanakan menjadi hanya bidang dan garis dalam arah horisontal dan vertikal, dengan menggunakan warna-warna primer seperti merah, biru, dan kuning di samping bantuan warna hitam dan putih. Dalam kebanyakan karya seni, garis vertikal dan horisontal tidak secara langsung bersilangan, tetapi saling melewati satu sama lain. Hal ini bisa dilihat dari lukisan Mondrian, Rietveld Schröder House, dan Red and blue chair.

Konsep de Stijl banyak dipengaruhi filosofi matematikawan M. H. J. Schoenmaekers. Piet Mondrian, kemudian mempublikasikan manifes seni mereka Neo-Plasticism pada tahun 1920, meskipun istilah ini sebenarnya sudah digunakan olehnya pada 1917 di Belanda dengan frase Nieuwe Beelding. Pelukis Theo van Doesburg kemudian mempublikasikan artikel De Stijl dari 1917 hingga 1928, menyebarkan teori-teori kelompok ini. Perupa de Stijl antara lain pematung George Vantongerloo, dan arsitek J.J.P. Oud dan Gerrit Rietveld.

Pada dasarnya aliran de Stijl hanya bergerak dalam dunia lukis. Sebab bagaimanapun konsep de Stijl adalah abstraksi secara ideal komposisi warna dalam bentuk dua dimensi, walaupun kemudian juga menghasilkan kesan ruang. Pemanfaatannya sangat banyak di dalam interior dan arsitekrur. namun seperti yang ditulis oleh Piet Mondrian bahwa de Stijl tetaplah sebuah konsep ideal dalam dua dimensi. Meskipun Theo van Doesburg berusaha keras memperjuangkan pengaplikasiannya dalam dunia arsitektur, de Stijl tetaplah hanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengolahan bidang-bidang warna, bukan arsitekturnya sendiri. de Stijl meredup seiring perpecahan di antara Theo van Doesburg yang aplikatif dan Piet Mondrian yang teoritis. Hingga akhirnya majalah de Stijl terakhir kali terbit untuk mengenang kematian Theo van Doesburg.

Bauhaus dari Program Weimar (1919) Prinsip-prinsip dari program Bauhaus pada tahun 1919 dilandasi untuk mengantisipasi program Taut oleh Bruno pada arsitektur “Arbeitstats fur Kunst”, yang dipublikasi pada akhir 1918 , yang meyakini bahwa sebuah penyatuan budaya baru dapat dicapai hanya melalui sebuah seni bangunan, yang mana setiap disiplin dapat memberikan kontribusi positif pada pengertian bentuk akhir, yaitu tidak ada lagi batasan antara keterampilan pada scupture dan lukisan, semua aspek hanya akan disatukan oleh arsitektur.

Pada saat ini telah memperlihatkan sebuah gejala dimana sifat seni bergerak mendekati ilmu arsitektur dan sebaliknya ilmu arsitektur bergerak menuju ilmu seni, hal ini menunjukkan sebuah pemikiran adanya hubungan antara kedua disiplin ilmu tersebut. Bahwa bentuk seni yang mendekatai bentuk arsitektur adalah seni seni pahat buka seni lukis di atas kanvas, karena seni lukis merupakan sebuah pengembangan dari persepsi visual dari seniman dan pengamat. Seni patung atau scupture saat ini berkembang mendekati ilmu arsitektur , dia mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku dalam ilmu arsitektur dengan mengurangi sedikit proporsi dan sedikit pertanggung-jawaban, dan scupture selalu dibuat menurut intuitif.

Para arsitek berfikir deduktif, melalui visi menyeluruh dari kehidupan yang tampak pada permukaan untuk ditarik pada suatu yang unik/spesifik, memiliki sebuah identitas mutlak, pengalaman ruang secara multi dimensi, di sini dan sekarang.

Karena arsitektur juga bicara fungsi dan juga memiliki pendekatan sains dalam disain. Pada saat ini memperlihatkan bahwa seni bergerak mendekati arsitektur dan arsitektur bergerak pada seni. sehingga apa yang menjadi batasan diantara keduannya, apakah keduannya masih memiliki batasan-batasan yang jelas, dugaan yang muncul yang telah dipahami melalui sistem pendidikan sejak lama, dimana terdapat pemisahan antara arsitek dan seniman, dan saat ini pemisahan antara arsitek dan seniman tetap ada, akan tetapi lebih memiliki alasan yang elastis.

Seorang enginer secara umum tertarik pada aspek teknik, normativ dan memperhatikan aspk-aspek struktur dari konstruksi, sedangkan arsitek lebih memperhatikan pada estetikan dan fungsi serta struktur. Ada perbedaan yang cukup esensial antara produk seni dan produk arsitektur, namun fenomena yang terjadi pada akhir-akhir ini adalah adanya pergeseran dimana produk arsitektur banyak dipengaruhi oleh karya seni, dan sebaliknya karya seni banyak juga dipengaruhi arsitektur, sehingga antara kedua produk tersebut perbedaannya semakin tipis.

Penerapan ilmu arsitektur pada saat ini telah membuka prospek baru dan memberikan gambaran awal yang datang dari arsitektur bukan dari seni, peran arsitektur saat ini semakin meningkat, bahkan telah mempengaruhi kehidupan seni, khususnya seni patung atau scupture.

Arsitektur dikelompokan sebagai aspek seni pada tingkat makrokosmos sedangkan seni scupture dimasukkan dalam tingkat mikrokosmos. Fenomenanya bahwa kekuatan pengaruh maro dalam hal ini disiplin ilmu arsitektur semakin hari semakin kuat, dan masuk pada dunia seni scupture, dan hal ini telah mengahiri dekade dimana arsitektur banyak dipengaruhi oleh seni supture, dan disain arsitektur yang utopia merupakan sabuah pandangan jauh ke depan.

Namun demikian bahwa antara para seniman dan pada arsitek diperlukan sistem kerja dan bekerja pada cara, sebagai berikut: 1. Mengambil pertimbangan dari scupture, lukisan, multimedia, dan sebangainya 2. Jalan tengah diantara ilmu disain arsitektur dan seni scupture kita harus selalu membuka diaolog dan debat diantara keduannya 3. Membawa kembali keindahan narasi, perbedaan kata-kata, lingkaran komunikasi antara yang dapat didefinisikan namun tidak terdefinisikan 4. Adalah sebuah objek hidup, oleh karena itu dapat di habitatkan dan dapat dijalankan. 5. Menuju nilai minimalis geometri, dan instalasi yang terpenting 6. Diberikan karakter melalui struktur, visual dan konseprtual kecukupannya.

Objek arsitektur diserap melalui simbolik dan nilai-nilai permisalan pada penunjukkan pada abstrak, jarak, Karya arsitektur yang banyak dipengaruhi oleh seni dan saat ini semangkin besar pengaruh seni scupture-nya adalah Frank O Gehry, beberapa karyanya secara arsitektural dapat diterima dikarena didukung oleh lokasi dan fungsi, lokasinya yang memungkinkan bahwa bangunan tersebut berfungsi sebagai scupture kota dan fungsinya sebagai fungsi publik seperti museum. Lain halnya bila karyanya diterapkan pada lokasi dan fungsi yang tidak mendukung, kita ambil contoh untuk karyanya Gehry pada Day Building, yang mengambil bentuk sebuah teropong. Ketika bangunannnya diletakkan pada satu kawasan dengan kelompok bangunan berderet, maka bangunan tersebut akan menampakkan ke egoan, kita dapat membayangkan bila bangunan seperti itu dilakukan pada seluruh deret pada jalan tersebut, yang akan terjadi adalah facade kawasan yang sangat dinamis terlalu bebas, dan hal ini akan mengakibatkan pada efek psikologi pada pengguna, mengakibatkan kawasan tersebut memberikan kelelahan bagi masyarakat pengguna.

Sama halnya dengan fenomena yang terjadi pada kawasan Jalan Cihampelas, kawasan rekreasi perbelanjaan yang sangat dinamis dan merupakan bangunan-bangunan yang banyak dipengaruhi oleh karya seni, khususnya scupture.

Pada hal sebuah produk arsitektur harus dapat dikumunikasikan sebagai produk dari ekpresi manusiannya, seperti dinyatakan oleh Trasi “Architecture must communicate in order to survive as a product of human expression”. Fenomena hubungan antara art dan arsitektur telah berlangsung lama , hal ini dapat kita lihat pada riwayat The Tower of Babel, yang dinyatakan dalam riwayat-riwayat dalam Injil, seperti dinyatakan “selain itu, menara agar masyarakat bersama-sama, meskipun fakta bahwa Tuhan telah diperintahkan Nuh dan …. “(Kejadian 9 : 1). Keberadaan menara babel sampai sat ini telah menjadi inspirasi bagi para seniman maupun para arsitek, untuk menterjemahkan dan mendeskripsikan, diantaranya beberapa seniman mengakui keberadaan menara babel tersebut dikaitkan dengan beberapa peninggalan yang terdapat pada relief lansekap sedangkan arsitektur dikaitkan dengan beberapa penemuan arkeolog.

Beberapa bangunan yang terinspirasi oleh menara babel diantaranya adalah bangunan EU Paliement, Empire State Building dan lain sebagainya. Kesimpulan Bahwa telah terjadi interaksi antara disiplin ilmu seni dan disain arsitektur sejak lama, fenomenannya menunjukkan bahwa proses interaksi tersebut semakin hari semakin kuat, sehingga batasan antara objek karya arsitektural dan objek seni, semakin menipis.

Bahwa pada awalnya perjalanan antara ilmu disain arstektur dipengaruhi oleh karya seni, sudah dimulai sejak kelahiran Art Nouveau, De Stijl, Bauhus, dan sampai saat ini, namun apa yang terjadi semakin hari keberpengaruhan tersebut semakin kuat.

2 Tanggapan to “Antara Karya Seni dan Arsitektur”

  1. joaquim/akin Says:

    mengapa ilmu disain arsitektur dipengaruhi oleh karya seni

  2. Kalau antara Arsitektur dan mitologi gimana..?? kubutuh banget ni buat tugas… Help me yach..!! thx sbelumnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: